<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Tentang perceraian</title>
	<atom:link href="http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/</link>
	<description>A Journey of Life</description>
	<lastBuildDate>Sun, 12 Feb 2012 16:43:46 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<item>
		<title>Oleh: Diandra</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-23040</link>
		<dc:creator><![CDATA[Diandra]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Jan 2012 03:33:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-23040</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum pak Anggara, bolehkah saya meminta talak dg tujuan bercerai dr suami, alasan saya karena suami sering berbohong tentang keberadaan wanita lain... &amp; ternyata ketahuan juga dari chat diFBnya. 
Sungguh saya mencintai suami, tapi saya tidak kuat menerimanya kembali. Yang jadi pertanyaan saya... jika setelah talak 1 itu jatuh, bolehkah saya menolak utk rujuk kembali setelah habis masa iddah?

Terima kasih sebelumnya pak Anggara]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum pak Anggara, bolehkah saya meminta talak dg tujuan bercerai dr suami, alasan saya karena suami sering berbohong tentang keberadaan wanita lain&#8230; &amp; ternyata ketahuan juga dari chat diFBnya.<br />
Sungguh saya mencintai suami, tapi saya tidak kuat menerimanya kembali. Yang jadi pertanyaan saya&#8230; jika setelah talak 1 itu jatuh, bolehkah saya menolak utk rujuk kembali setelah habis masa iddah?</p>
<p>Terima kasih sebelumnya pak Anggara</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: anggara</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-22976</link>
		<dc:creator><![CDATA[anggara]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 00:53:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-22976</guid>
		<description><![CDATA[@lupus
silahkan anda ajukan permohonan cerai talak ke PA tempat domisili istri and]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@lupus<br />
silahkan anda ajukan permohonan cerai talak ke PA tempat domisili istri and</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: lupus</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-22955</link>
		<dc:creator><![CDATA[lupus]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 14:21:33 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-22955</guid>
		<description><![CDATA[Saya minta saran.
kami beragama Islam
Istri saya turun rumah tanpa sepengetahuan saya. hal ini sudah berulang kali di lakukan oleh istri saya. sempat turun rumah tanpa ijin dan kembali setelah 6 bulan dengan membawa janin 4 bulan di perutnya dan di akui adalah hasil hubungan badan dengan seorang lelaki yang memang sempat saya curigai. mengingat saya masih dan sangat mencintai istri saya dan juga kami mempunyai seorang anak perempuan yang berumur 4 tahun, saya kembali menerima istri saya. janin haram tersebut akhirnya di gugurkan atas permintaan istri saya. setelah itu istri saya tersebut saya kawin lagi untuk yang kedua kalinya. sekarang setelah dua tahun pernikahankedua kami, istri saya mengulang kembali perbuatannya. sya sudah habis kesabaran, saya ingin pisah dengan istri saya. istri saya sangat berdampak buruk buat anak anak saya dan rumah tangga saya serta pekerjaan saya.
bagaimana cara saya menceraikan istri saya. biarlah cinta saya terhadap istri saya, saya korbankan demi anak-anak, nama baik rumah tangga dan pekerjaan saya yang semuanya untuk masa depan anak-anak nanti.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya minta saran.<br />
kami beragama Islam<br />
Istri saya turun rumah tanpa sepengetahuan saya. hal ini sudah berulang kali di lakukan oleh istri saya. sempat turun rumah tanpa ijin dan kembali setelah 6 bulan dengan membawa janin 4 bulan di perutnya dan di akui adalah hasil hubungan badan dengan seorang lelaki yang memang sempat saya curigai. mengingat saya masih dan sangat mencintai istri saya dan juga kami mempunyai seorang anak perempuan yang berumur 4 tahun, saya kembali menerima istri saya. janin haram tersebut akhirnya di gugurkan atas permintaan istri saya. setelah itu istri saya tersebut saya kawin lagi untuk yang kedua kalinya. sekarang setelah dua tahun pernikahankedua kami, istri saya mengulang kembali perbuatannya. sya sudah habis kesabaran, saya ingin pisah dengan istri saya. istri saya sangat berdampak buruk buat anak anak saya dan rumah tangga saya serta pekerjaan saya.<br />
bagaimana cara saya menceraikan istri saya. biarlah cinta saya terhadap istri saya, saya korbankan demi anak-anak, nama baik rumah tangga dan pekerjaan saya yang semuanya untuk masa depan anak-anak nanti.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: yoga</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-22857</link>
		<dc:creator><![CDATA[yoga]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 13:22:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-22857</guid>
		<description><![CDATA[aku mo bercerai ma istri.... tp bingung gmana cara nya]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>aku mo bercerai ma istri&#8230;. tp bingung gmana cara nya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: pipit</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-22781</link>
		<dc:creator><![CDATA[pipit]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 06 Nov 2011 12:24:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-22781</guid>
		<description><![CDATA[pak anggara, saya ingin bertanya ttg masalah perceraian saya... saya menikah th 2007, krn saling tdk ada kecocokan sejak awal 2008 hingga akhir 2009 kami pisah ranjang....suami mengajukan gugatan cerai di PA,  tahun 2010 bulan maret saya resmi cerai, akta cerai sdh saya terima.
th 2011 bulan januari saya bertemu dng mantan suami dan diajak rujuk kembali, saya menerima ajakan tersebut dan akhirnya kami menikah kembali di bulan april 2011, terjadi keributan kembali di bulan mei 2011, akhirnya kami kembali pisah rumah/ranjang hingga sekarang... sekarang saya yg ganti akan mengajukan gugatan cerai kepada suami.. apakah bisa dan apakah saya harus pakai kuasa hukum? sebab eks suami melakukan ancaman terhadap diri saya... mohon saran terbaiknya.. thanks]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pak anggara, saya ingin bertanya ttg masalah perceraian saya&#8230; saya menikah th 2007, krn saling tdk ada kecocokan sejak awal 2008 hingga akhir 2009 kami pisah ranjang&#8230;.suami mengajukan gugatan cerai di PA,  tahun 2010 bulan maret saya resmi cerai, akta cerai sdh saya terima.<br />
th 2011 bulan januari saya bertemu dng mantan suami dan diajak rujuk kembali, saya menerima ajakan tersebut dan akhirnya kami menikah kembali di bulan april 2011, terjadi keributan kembali di bulan mei 2011, akhirnya kami kembali pisah rumah/ranjang hingga sekarang&#8230; sekarang saya yg ganti akan mengajukan gugatan cerai kepada suami.. apakah bisa dan apakah saya harus pakai kuasa hukum? sebab eks suami melakukan ancaman terhadap diri saya&#8230; mohon saran terbaiknya.. thanks</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Din</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-22722</link>
		<dc:creator><![CDATA[Din]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 06:30:01 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-22722</guid>
		<description><![CDATA[pak Anggara,

Mohon advice nya. Saya ingin mengajukan gugatan cerai terhadap istri saya dengan alasan-alasan yang tidak etis saya ungkapkan di sini, tetapi istri saya tidak bersedia diceraikan. Bahkan buku nikah saya diumpetin agar saya tidak bisa mengurus pendaftaran kasus ke pengadilan agama.
Mohon saran bagaimana saya bisa meneruskan proses dengan situasi seperti ini? Terima kasih.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pak Anggara,</p>
<p>Mohon advice nya. Saya ingin mengajukan gugatan cerai terhadap istri saya dengan alasan-alasan yang tidak etis saya ungkapkan di sini, tetapi istri saya tidak bersedia diceraikan. Bahkan buku nikah saya diumpetin agar saya tidak bisa mengurus pendaftaran kasus ke pengadilan agama.<br />
Mohon saran bagaimana saya bisa meneruskan proses dengan situasi seperti ini? Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: aida</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-22698</link>
		<dc:creator><![CDATA[aida]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 17:02:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-22698</guid>
		<description><![CDATA[temenku sdh nikah sejak 1997 sekarang istri menggugat cerai karena suami tidak mau bekerja, sehingga kebutuhan hidup dari hasil kerja istri. Suami punya tanah bawaan dari orang tuanya, dalam perjalanan selama pernikahan tanah dijual untuk biaya hidup, seblum menikah istri belum PNS, suami merasa keberhasilan si istri menjadi PNS atas modalnya. Pertanyaan saya :
1. Bagaminakah harta bawaan suami yang sudah dijual untuk bekal mencari pekerjaan istri tersebut, suami menuntut istri mengembalikan tanah yang terjual.
2. Belakangan suami cerita ke salah seorang temannya bahwa suami berniat mendukung istri bekerja karena menurut suami, isterinya dianggap investasi dimasa usia yang semakin tua. Bagamanakah pola pikir suami yang demikian.
Terima kasih atas jawaban pak Anggara]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>temenku sdh nikah sejak 1997 sekarang istri menggugat cerai karena suami tidak mau bekerja, sehingga kebutuhan hidup dari hasil kerja istri. Suami punya tanah bawaan dari orang tuanya, dalam perjalanan selama pernikahan tanah dijual untuk biaya hidup, seblum menikah istri belum PNS, suami merasa keberhasilan si istri menjadi PNS atas modalnya. Pertanyaan saya :<br />
1. Bagaminakah harta bawaan suami yang sudah dijual untuk bekal mencari pekerjaan istri tersebut, suami menuntut istri mengembalikan tanah yang terjual.<br />
2. Belakangan suami cerita ke salah seorang temannya bahwa suami berniat mendukung istri bekerja karena menurut suami, isterinya dianggap investasi dimasa usia yang semakin tua. Bagamanakah pola pikir suami yang demikian.<br />
Terima kasih atas jawaban pak Anggara</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: chacha n nie</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-22400</link>
		<dc:creator><![CDATA[chacha n nie]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2011 04:11:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-22400</guid>
		<description><![CDATA[yth bpk anggara,
sy sdh bercerai dgn mantan suami 6 bln lalu. saat kami msh bersama kami pernah mengajukan pinjaman uang ke bank dgn mengagunkan sertifikat rmh orang tua saya. uang tersebut diperuntukan biaya pindah ke kota lain. krn pekerjaan mantan suami sy wkt itu di kota B, dan mantan suami menginginkan sy &amp; anak2 ikut. karena mantan suami tdk mempunyai uang untuk memboyong kami, jd atas persetujuan &amp; kesanggupan suami pd wkt itu kami mengajukan pinjaman uang ke bank dgn mengagunkan sertifikat rmh orang tua saya.

1 thn lebih dr sebelum bercerai sampai sekarang mantan suami saya tidak pernah memberikan uang cicilan dengan dalih tidak ada uang. tp yg membuat saya jengkel barang2 yg dipakainya barang mahal2. seperti handphone blackbarry seharga 4 jutaan, jam tangannya jg ber-merk... tapi untuk biaya hidup 2 org anaknya yg sekarang ikut saya, dia hanya memberi 500 rb setiap bulannya.

cicilan ke bank itu masih tersisa 7 thn lagi... &amp; sekarang ini saya yg mencicilnya, dengan penghasilan saya yg pas-pasan. terus terang saya merasa berat.

yang saya ingin tanyakan, bisa tidak saya menuntut (secara hukum) mantan suami saya untuk menyelesaikan hutang tersebut?

terima kasih]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>yth bpk anggara,<br />
sy sdh bercerai dgn mantan suami 6 bln lalu. saat kami msh bersama kami pernah mengajukan pinjaman uang ke bank dgn mengagunkan sertifikat rmh orang tua saya. uang tersebut diperuntukan biaya pindah ke kota lain. krn pekerjaan mantan suami sy wkt itu di kota B, dan mantan suami menginginkan sy &amp; anak2 ikut. karena mantan suami tdk mempunyai uang untuk memboyong kami, jd atas persetujuan &amp; kesanggupan suami pd wkt itu kami mengajukan pinjaman uang ke bank dgn mengagunkan sertifikat rmh orang tua saya.</p>
<p>1 thn lebih dr sebelum bercerai sampai sekarang mantan suami saya tidak pernah memberikan uang cicilan dengan dalih tidak ada uang. tp yg membuat saya jengkel barang2 yg dipakainya barang mahal2. seperti handphone blackbarry seharga 4 jutaan, jam tangannya jg ber-merk&#8230; tapi untuk biaya hidup 2 org anaknya yg sekarang ikut saya, dia hanya memberi 500 rb setiap bulannya.</p>
<p>cicilan ke bank itu masih tersisa 7 thn lagi&#8230; &amp; sekarang ini saya yg mencicilnya, dengan penghasilan saya yg pas-pasan. terus terang saya merasa berat.</p>
<p>yang saya ingin tanyakan, bisa tidak saya menuntut (secara hukum) mantan suami saya untuk menyelesaikan hutang tersebut?</p>
<p>terima kasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: barus</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21958</link>
		<dc:creator><![CDATA[barus]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 09:58:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21958</guid>
		<description><![CDATA[yth bapak penolong,
mohon bantuan, saya lelaki nikah agama(katolik) belum urus akta perkawinan dikarenakan, sudah dikaruniai anak 3th, masalah: istri saya selingkuh dgn lelaki lain, istri &amp; lelaki lain tsb mengakui dan skrg istri minta pisah, bisakah saya mendapatkan hak asuh anak, karena secara administrasi negara saya blm memiliki akta perkawinan &amp; blm memiliki akta kelahiran anak, mohon dibantu menghadapi masalah saya, terimakasih atas segala bantuan bapak
salam hormat saya]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>yth bapak penolong,<br />
mohon bantuan, saya lelaki nikah agama(katolik) belum urus akta perkawinan dikarenakan, sudah dikaruniai anak 3th, masalah: istri saya selingkuh dgn lelaki lain, istri &amp; lelaki lain tsb mengakui dan skrg istri minta pisah, bisakah saya mendapatkan hak asuh anak, karena secara administrasi negara saya blm memiliki akta perkawinan &amp; blm memiliki akta kelahiran anak, mohon dibantu menghadapi masalah saya, terimakasih atas segala bantuan bapak<br />
salam hormat saya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: iwan widjaja</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21798</link>
		<dc:creator><![CDATA[iwan widjaja]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Mar 2011 16:26:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21798</guid>
		<description><![CDATA[saya mau tnya pak anggara.
jika suatu rumah tangga,tidak ad perselisihan or pertengkaran . hanya saja suami kurang perhatian dan keromantisan dalam hubungan keluarga. bisakah sang istri menuntut cerai pada suami nya?
dan jika terjadi perceraian,dapatkah sang istri memperoleh anak nya?]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya mau tnya pak anggara.<br />
jika suatu rumah tangga,tidak ad perselisihan or pertengkaran . hanya saja suami kurang perhatian dan keromantisan dalam hubungan keluarga. bisakah sang istri menuntut cerai pada suami nya?<br />
dan jika terjadi perceraian,dapatkah sang istri memperoleh anak nya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: anggara</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21702</link>
		<dc:creator><![CDATA[anggara]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Feb 2011 02:22:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21702</guid>
		<description><![CDATA[@helmi
1. Bisa
2. Tidak, tapi bisa dimohonkan
3. Tidak

Salam]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@helmi<br />
1. Bisa<br />
2. Tidak, tapi bisa dimohonkan<br />
3. Tidak</p>
<p>Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: helmi</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21700</link>
		<dc:creator><![CDATA[helmi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 13:43:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21700</guid>
		<description><![CDATA[pak anggara saya mau tny:
1.apa hutang di bank bs dimasukkan kedlm gugata cerai?
2.apa bs perbandingannya 25:75 utk diajukan kepegadilan?
3.jk sdh ada keputusan dr sidang tp pihak tergugat tdk mau membayar apa bs dialihkan mnjd perkara pidana?
terima kasih...]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pak anggara saya mau tny:<br />
1.apa hutang di bank bs dimasukkan kedlm gugata cerai?<br />
2.apa bs perbandingannya 25:75 utk diajukan kepegadilan?<br />
3.jk sdh ada keputusan dr sidang tp pihak tergugat tdk mau membayar apa bs dialihkan mnjd perkara pidana?<br />
terima kasih&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: anggara</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21633</link>
		<dc:creator><![CDATA[anggara]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Feb 2011 09:32:35 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21633</guid>
		<description><![CDATA[@ana
pisah ranjang tidak diatur dalam hukum Indonesia]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ana<br />
pisah ranjang tidak diatur dalam hukum Indonesia</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: anggara</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21631</link>
		<dc:creator><![CDATA[anggara]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Feb 2011 09:31:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21631</guid>
		<description><![CDATA[@cynthia
Soal hak asuh, memang pengadilan akan melihat semua kondisi dari kedua belah pihak, namun jika anda punya perjanjian khusus, bisa dimintakan putusannya di Pengadilan untuk menjatuhkan putusan untuk menghukum menaati perjanjian tersebut]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@cynthia<br />
Soal hak asuh, memang pengadilan akan melihat semua kondisi dari kedua belah pihak, namun jika anda punya perjanjian khusus, bisa dimintakan putusannya di Pengadilan untuk menjatuhkan putusan untuk menghukum menaati perjanjian tersebut</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: anggara</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21563</link>
		<dc:creator><![CDATA[anggara]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 19 Jan 2011 03:13:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21563</guid>
		<description><![CDATA[@cynthia
ibu bisa mengajukan gugatan cerai, hak asuh anak sebelum umur 12 tahun pada pokoknya diserahkan pada ibunya, kecuali ada hal - hal khusus lain yang menjadi pertimbangan pengadilan. Untuk di atas 12 tahun, maka Pengadilan harus bertanya kepada anak tersebut. Untuk rumah, sepanjang masuk dalam kategori harta bersama, maka harus dibagi dua secara rata]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@cynthia<br />
ibu bisa mengajukan gugatan cerai, hak asuh anak sebelum umur 12 tahun pada pokoknya diserahkan pada ibunya, kecuali ada hal &#8211; hal khusus lain yang menjadi pertimbangan pengadilan. Untuk di atas 12 tahun, maka Pengadilan harus bertanya kepada anak tersebut. Untuk rumah, sepanjang masuk dalam kategori harta bersama, maka harus dibagi dua secara rata</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ana</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21543</link>
		<dc:creator><![CDATA[Ana]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 15 Jan 2011 15:43:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21543</guid>
		<description><![CDATA[Pak Anggara, sy mau tanya perihal pisah ranjang, ketentuan lamanya pisah ranjang, masih bolehkah bila berhubungan intim dan bagaimana hukumnya. truss apa hak dan kewajiban dari suami dan istri setelah pisah ranjang. 

sy mohon banget jawaban secepatnya.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Anggara, sy mau tanya perihal pisah ranjang, ketentuan lamanya pisah ranjang, masih bolehkah bila berhubungan intim dan bagaimana hukumnya. truss apa hak dan kewajiban dari suami dan istri setelah pisah ranjang. </p>
<p>sy mohon banget jawaban secepatnya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: cynthia</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21537</link>
		<dc:creator><![CDATA[cynthia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2011 08:50:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21537</guid>
		<description><![CDATA[Yth,Bapak Anggara,

Saya baru akan mengajukan gugatan cerai pada suami saya..sebenarnya hal ini sudah disepakati bersama,tapi suami tidak mau mengurus perceraian alasannya belum ada biaya.apakah sebaiknya saya yang mengajukan?karena sudah hampir 1tahun kami pisah rumah.bagaimana jika saya tidak bekerja n dalam keadaan sakit(harus terapi) apakah nanti hak asuh jatuh ketangan suami?anak saya  2 org yang 1 berumur 14thn yang satu lagi 11thn.mereka tidak mau jika harus tinggal dengan bapaknya.Dan apakah masalah rumah yang skarang kami tempati bisa dimiliki oleh suami berhubung pembelian rumah tersebut pada saat kami akan menikah.apakah saya n anak2 berhak untuk tetap tinggal dirumah tsb?mohon penjelasannya ya pak..Terima kasih banyak atas masukannya!!!]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Yth,Bapak Anggara,</p>
<p>Saya baru akan mengajukan gugatan cerai pada suami saya..sebenarnya hal ini sudah disepakati bersama,tapi suami tidak mau mengurus perceraian alasannya belum ada biaya.apakah sebaiknya saya yang mengajukan?karena sudah hampir 1tahun kami pisah rumah.bagaimana jika saya tidak bekerja n dalam keadaan sakit(harus terapi) apakah nanti hak asuh jatuh ketangan suami?anak saya  2 org yang 1 berumur 14thn yang satu lagi 11thn.mereka tidak mau jika harus tinggal dengan bapaknya.Dan apakah masalah rumah yang skarang kami tempati bisa dimiliki oleh suami berhubung pembelian rumah tersebut pada saat kami akan menikah.apakah saya n anak2 berhak untuk tetap tinggal dirumah tsb?mohon penjelasannya ya pak..Terima kasih banyak atas masukannya!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Anggara</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21504</link>
		<dc:creator><![CDATA[Anggara]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2011 03:47:45 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21504</guid>
		<description><![CDATA[boleh saja, kalau mau diputus tanpa kehadiran Anda, dan itu berarti seluruh permintaan penggugat sangat dikabulkan oleh Hakim. Saran saya coba gunakan dan cari pengacara. Kalau miskin bisa minta bantuan hukum via http://pendek.in/02n6s]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>boleh saja, kalau mau diputus tanpa kehadiran Anda, dan itu berarti seluruh permintaan penggugat sangat dikabulkan oleh Hakim. Saran saya coba gunakan dan cari pengacara. Kalau miskin bisa minta bantuan hukum via <a href="http://pendek.in/02n6s" rel="nofollow">http://pendek.in/02n6s</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: irfan</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21503</link>
		<dc:creator><![CDATA[irfan]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2011 03:43:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21503</guid>
		<description><![CDATA[Pak , sy mau tanya : bolehkah kita tidak datang dalam suatu sidang perceraian ?

sedangkan status saya sebagai tergugat .]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak , sy mau tanya : bolehkah kita tidak datang dalam suatu sidang perceraian ?</p>
<p>sedangkan status saya sebagai tergugat .</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: anggara</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21499</link>
		<dc:creator><![CDATA[anggara]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2011 02:30:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21499</guid>
		<description><![CDATA[@djal
bisa saja]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@djal<br />
bisa saja</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: djal</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21473</link>
		<dc:creator><![CDATA[djal]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Jan 2011 05:31:10 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21473</guid>
		<description><![CDATA[BAGAIMANA klo dalam suatu keluaraga hanya karena paktor ekonomi hubunganpun semakin rumiy,perselisihan tak dapat di hindari bahkan sampai berlarut sampai detik ini?
apakah pantas semua itu di lakukan perceraian?sedangkan sudah di karuniai 2 anak?
yah intinya sih masng2 tidak mengerti trimz..]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>BAGAIMANA klo dalam suatu keluaraga hanya karena paktor ekonomi hubunganpun semakin rumiy,perselisihan tak dapat di hindari bahkan sampai berlarut sampai detik ini?<br />
apakah pantas semua itu di lakukan perceraian?sedangkan sudah di karuniai 2 anak?<br />
yah intinya sih masng2 tidak mengerti trimz..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: djal</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21472</link>
		<dc:creator><![CDATA[djal]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 02 Jan 2011 05:24:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21472</guid>
		<description><![CDATA[BAGAIMANA klo dalam suatu keluaraga hanya karena paktor ekonomi hubunganpun semakin rumiy,perselisihan tak dapat di hindari bahkan sampai berlarut sampai detik ini?
apakah pantas semua itu di lakukan perceraian?sedangkan sudah di karuniai 2 anak?
trimz..]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>BAGAIMANA klo dalam suatu keluaraga hanya karena paktor ekonomi hubunganpun semakin rumiy,perselisihan tak dapat di hindari bahkan sampai berlarut sampai detik ini?<br />
apakah pantas semua itu di lakukan perceraian?sedangkan sudah di karuniai 2 anak?<br />
trimz..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: mr.x</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21018</link>
		<dc:creator><![CDATA[mr.x]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 08:24:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-21018</guid>
		<description><![CDATA[saya punya permasalahan, saya sudah meninggalkan istri saya selam 9 tahun. selama kmi bersma dulu pihak keuarga istri saya selalu semena-mena kepada saya dan sering terjadi pertengkaran saya dengan istri saya. saya sudah bilang pada istri saya kalau kamu aku talak sebanyak 3 x. baru-bru ini istri saya mencari saya dan minta cerai kepada saya katanya dia mau menikah lagi. dia gak mu mengurusnya sendiri dan kalau saya yang mengurus surat nikah tidak diberikan. bagaimana caranya saya mengurus perceraian saya tanpa surat nikah, dan bagaimana prosedurnya tolong saya pak]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya punya permasalahan, saya sudah meninggalkan istri saya selam 9 tahun. selama kmi bersma dulu pihak keuarga istri saya selalu semena-mena kepada saya dan sering terjadi pertengkaran saya dengan istri saya. saya sudah bilang pada istri saya kalau kamu aku talak sebanyak 3 x. baru-bru ini istri saya mencari saya dan minta cerai kepada saya katanya dia mau menikah lagi. dia gak mu mengurusnya sendiri dan kalau saya yang mengurus surat nikah tidak diberikan. bagaimana caranya saya mengurus perceraian saya tanpa surat nikah, dan bagaimana prosedurnya tolong saya pak</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: anggara</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20983</link>
		<dc:creator><![CDATA[anggara]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 13 Oct 2010 04:14:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20983</guid>
		<description><![CDATA[@surya
soal pengadilan bisa menerima atau tidak, tentu saya nggak bisa jawab, tapi praktek yang umum terjadi biasanya dikabulkan oleh Pengadilan :)]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@surya<br />
soal pengadilan bisa menerima atau tidak, tentu saya nggak bisa jawab, tapi praktek yang umum terjadi biasanya dikabulkan oleh Pengadilan <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Surya</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20946</link>
		<dc:creator><![CDATA[Surya]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 06 Oct 2010 09:08:52 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20946</guid>
		<description><![CDATA[Thanks atas infonya..tp saya punya lain masalah..
saya menikah br brp2 bulan dan istri saya lagi hamil..tp hamil bukan anak dr saya..alias istri saya nyeleweng..
Nah disini saya tidak pemabok..zina..ato semua yg tertulis dlm UU Perkawinan..
Masalahnya..istri saya yg nakal...malahan dia mau gugat cerai saya dan bersikukuh ingin hidup dengan cow barunya..saya sampe bingung ..
kalo saya pribadi msh ingin mempertahankan perkawinan ini..dan anak yg dikandung istri saya..akan saya akui sebagai anak saya sendiri..
Bisa ga pengadilan menerima/memutuskan perceraian yg diajukan istri saya..?alibi istri saya ga ada/ga kuat..cman istri saya kadung cinta ama cow ini..
Mohon advicenya Bro Anggara
sekali lagi terima kasih..]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Thanks atas infonya..tp saya punya lain masalah..<br />
saya menikah br brp2 bulan dan istri saya lagi hamil..tp hamil bukan anak dr saya..alias istri saya nyeleweng..<br />
Nah disini saya tidak pemabok..zina..ato semua yg tertulis dlm UU Perkawinan..<br />
Masalahnya..istri saya yg nakal&#8230;malahan dia mau gugat cerai saya dan bersikukuh ingin hidup dengan cow barunya..saya sampe bingung ..<br />
kalo saya pribadi msh ingin mempertahankan perkawinan ini..dan anak yg dikandung istri saya..akan saya akui sebagai anak saya sendiri..<br />
Bisa ga pengadilan menerima/memutuskan perceraian yg diajukan istri saya..?alibi istri saya ga ada/ga kuat..cman istri saya kadung cinta ama cow ini..<br />
Mohon advicenya Bro Anggara<br />
sekali lagi terima kasih..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: anggara</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20816</link>
		<dc:creator><![CDATA[anggara]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 01:54:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20816</guid>
		<description><![CDATA[@hepi
Jika anda ingin bercerai, usahakan semulus mungkin, masalah hak asuh anak kadang menjadi ganjalan dan rebutan. Sebisa mungkin diupayakan jalan keluarnya. Secara hukum, anak2 dibawah usia 12 tahun berada dibawah hak asuh ibunya
]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@hepi<br />
Jika anda ingin bercerai, usahakan semulus mungkin, masalah hak asuh anak kadang menjadi ganjalan dan rebutan. Sebisa mungkin diupayakan jalan keluarnya. Secara hukum, anak2 dibawah usia 12 tahun berada dibawah hak asuh ibunya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: hepi</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20809</link>
		<dc:creator><![CDATA[hepi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 04:04:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20809</guid>
		<description><![CDATA[saya seorang istri yang pergi meninggalkan rumah suami selama 7 bulan, itupun karena dirumah suami saya merasa tdk diperlakukan layaknya istri. bagaimana bisa satu rumah satu kamar, satu ranjang, sering tak ada komunikasi bahkan pernah 3 bulan berturut2 tdk ada komunikasi samasekali. tp sy tetap menjalankan kewajiban sbg istri (housekeeping,siapin makan, minum, siapin baju, dll) tpi saya merasa tidak mendapat nafkah batin. saya meninggalkan rumah pun dengan mengajak anak saya, lalu saya tinggal bersama orang tua kembali. nah selama 7 bulan itu tdk ada kontak samasekali dan anak seminggu sekali di jemput oleh suami saya. lalu bagaimana dengan hak asuh jika saya bercerai nanti? apakah saya salah meninggalkan rumah suami hanya karena merasa tidak kuat dan tidak dinafkahin batin? lalu hak asuh bagaimana?anak masih umur 2 tahun. terimakasih, mohon sarannya.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya seorang istri yang pergi meninggalkan rumah suami selama 7 bulan, itupun karena dirumah suami saya merasa tdk diperlakukan layaknya istri. bagaimana bisa satu rumah satu kamar, satu ranjang, sering tak ada komunikasi bahkan pernah 3 bulan berturut2 tdk ada komunikasi samasekali. tp sy tetap menjalankan kewajiban sbg istri (housekeeping,siapin makan, minum, siapin baju, dll) tpi saya merasa tidak mendapat nafkah batin. saya meninggalkan rumah pun dengan mengajak anak saya, lalu saya tinggal bersama orang tua kembali. nah selama 7 bulan itu tdk ada kontak samasekali dan anak seminggu sekali di jemput oleh suami saya. lalu bagaimana dengan hak asuh jika saya bercerai nanti? apakah saya salah meninggalkan rumah suami hanya karena merasa tidak kuat dan tidak dinafkahin batin? lalu hak asuh bagaimana?anak masih umur 2 tahun. terimakasih, mohon sarannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: anggara</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20672</link>
		<dc:creator><![CDATA[anggara]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 02:14:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20672</guid>
		<description><![CDATA[@indah
silahkan anda minta keterangan di KCS atau KUA dimana anda menikah, untuk perceraian jika anda beragama Islam maka diajukan di daerah hukum tempat tinggal jika suami anda. Untuk perhiasan, sepanjang termasuk harta bersama akan dibagi dua, dan untuk tunjangan anak silahkan anda mintakan ke Pengadilan]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@indah<br />
silahkan anda minta keterangan di KCS atau KUA dimana anda menikah, untuk perceraian jika anda beragama Islam maka diajukan di daerah hukum tempat tinggal jika suami anda. Untuk perhiasan, sepanjang termasuk harta bersama akan dibagi dua, dan untuk tunjangan anak silahkan anda mintakan ke Pengadilan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Indah</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20659</link>
		<dc:creator><![CDATA[Indah]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 04:04:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20659</guid>
		<description><![CDATA[Pak Anggara,
Saat ini saya sudah pisah rumah dengan suami, percekcokan sering terjadi dalam rumah tangga kami, terlebih pihak mertua selalu ikut campur dalam urusan kami.
Yang mau saya tanyakan:
1. Bisakah saya mengajukan cerai di PN tanpa menyertakan buku nikah,karena buku nikah ditahan pihak suami, dan walaupun saya sudah meminta berulang kali buku nikah tersebut tetap tidak mau diserahkan suami. Dan di PN mana saya harus mengajukan cerai tersebut.
2. Bisakah saya menuntut pengembalian atas perhiasan-perhiasan pribadi saya yang disembunyikan oleh suami. Selama ini saya cukup bersabar, perhiasan-perhiasan saya itu disembunyikan dia, walaupun saya sudah berulang kali menanyakan dimana keberadaan perhiasan-perhiasan saya itu.
3. Saya akan menuntut tunjangan untuk anak, dan apabila kedepannya suami tidak memenuhi tuntutan atas uang tunjangan tersebut, apakah saya bisa memroses secara hukum atas hal itu, karena saat ini pun suami tidak memberikan uang untuk keperluan anak.
Terima kasih atas perhatiannya. Saya menunggu jawaban dari bapak.
Salam]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Anggara,<br />
Saat ini saya sudah pisah rumah dengan suami, percekcokan sering terjadi dalam rumah tangga kami, terlebih pihak mertua selalu ikut campur dalam urusan kami.<br />
Yang mau saya tanyakan:<br />
1. Bisakah saya mengajukan cerai di PN tanpa menyertakan buku nikah,karena buku nikah ditahan pihak suami, dan walaupun saya sudah meminta berulang kali buku nikah tersebut tetap tidak mau diserahkan suami. Dan di PN mana saya harus mengajukan cerai tersebut.<br />
2. Bisakah saya menuntut pengembalian atas perhiasan-perhiasan pribadi saya yang disembunyikan oleh suami. Selama ini saya cukup bersabar, perhiasan-perhiasan saya itu disembunyikan dia, walaupun saya sudah berulang kali menanyakan dimana keberadaan perhiasan-perhiasan saya itu.<br />
3. Saya akan menuntut tunjangan untuk anak, dan apabila kedepannya suami tidak memenuhi tuntutan atas uang tunjangan tersebut, apakah saya bisa memroses secara hukum atas hal itu, karena saat ini pun suami tidak memberikan uang untuk keperluan anak.<br />
Terima kasih atas perhatiannya. Saya menunggu jawaban dari bapak.<br />
Salam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Soni</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20601</link>
		<dc:creator><![CDATA[Soni]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 18:15:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20601</guid>
		<description><![CDATA[Oya pak Anggara perlu saya tambahkan ,semua data dan informasi  diatas masih &quot;katanya&quot;  artinya info blm valid , dan setelah saya cross chek byk yg meragukan keterangan/ info tsb. saya tidak tahu apakah saya dipanas-panasi orang atau ini bentuk psy war dari istri saya utk melihat reaksi saya.
terima kasih]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Oya pak Anggara perlu saya tambahkan ,semua data dan informasi  diatas masih &#8220;katanya&#8221;  artinya info blm valid , dan setelah saya cross chek byk yg meragukan keterangan/ info tsb. saya tidak tahu apakah saya dipanas-panasi orang atau ini bentuk psy war dari istri saya utk melihat reaksi saya.<br />
terima kasih</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Soni</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20599</link>
		<dc:creator><![CDATA[Soni]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 10:21:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20599</guid>
		<description><![CDATA[Pak  saya mau tanya
Saya seorang pria  saya menikah tahun 2005 ,tapi tahun 2006 istri meninggalkan saya karena tidak cocok dengan ibu saya yang tinggal dengan kami (saya anak satu2nya) setelah 3 bulan pisah  Istri kembali ke kami dan pada tahun Agustus 2007 Istri saya pulang kerumah Orang tuanua karena berselisih dengan Ibu saya lagi , tapi desember 2008 Istri saya menemui saya dan kami berbaik kembali tapi Istri tetap tinggal dirumah orang tuanya,kami tetap &quot;berhubungan &quot;,tapi Maret 2009 saya ribut dengan Istri karena Istri menuduh saya mengajari kata2 kasar terhadap anak.
Setelah itu kami tidak pernah komunikasi lagi sampai sekarang Juli 2010 (kurang lebih 1 tahun 3 bulan)....saya tidak memberi dia nafkah lahir dan bathin,baru2 ini saya mendapatkabar dari teman Istri saya bahwa Dia sudah mengurus surat cerai sendiri (sudah memiliki Surat Kuning) padahal saat itu selama sekitar 4 bulan dia kehilangan alamat saya karena saya Pindah kerumah baru kami , tapi sejak 
Bulan April 2010 dia sudah tahu keberadaan tempat usaha saya.Dan bahkan Istri saya sudah jalan dengan Pria lain (Informasi dari salah seorang teman saya)
Yang ingin saya tanyakan pak
1. sahkah  Surat cerai yang dimiliki Istri saya itu sementara saya belum mengucapkan talak / kata cerai sekalipun kedia di pengadilan agama.
2.Bagaimana bisa dia mendapat surat kuning tsb? saya sekarang masih memegang surat Nikah kami.
3. Saya juga ingin mengajukan gugatan cerai (untuk mendapatkan surat cerai) rencananya saya mau mengajukan surat perjanjian tidak akan saling tuntut menuntut dan gugat menggugat karena kami setuju membagi anak satu-satu.

Terima kasih saya ucapkan kepada Pak Anggara atas kesedian waktunya menjawab pertanyaan saya.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak  saya mau tanya<br />
Saya seorang pria  saya menikah tahun 2005 ,tapi tahun 2006 istri meninggalkan saya karena tidak cocok dengan ibu saya yang tinggal dengan kami (saya anak satu2nya) setelah 3 bulan pisah  Istri kembali ke kami dan pada tahun Agustus 2007 Istri saya pulang kerumah Orang tuanua karena berselisih dengan Ibu saya lagi , tapi desember 2008 Istri saya menemui saya dan kami berbaik kembali tapi Istri tetap tinggal dirumah orang tuanya,kami tetap &#8220;berhubungan &#8220;,tapi Maret 2009 saya ribut dengan Istri karena Istri menuduh saya mengajari kata2 kasar terhadap anak.<br />
Setelah itu kami tidak pernah komunikasi lagi sampai sekarang Juli 2010 (kurang lebih 1 tahun 3 bulan)&#8230;.saya tidak memberi dia nafkah lahir dan bathin,baru2 ini saya mendapatkabar dari teman Istri saya bahwa Dia sudah mengurus surat cerai sendiri (sudah memiliki Surat Kuning) padahal saat itu selama sekitar 4 bulan dia kehilangan alamat saya karena saya Pindah kerumah baru kami , tapi sejak<br />
Bulan April 2010 dia sudah tahu keberadaan tempat usaha saya.Dan bahkan Istri saya sudah jalan dengan Pria lain (Informasi dari salah seorang teman saya)<br />
Yang ingin saya tanyakan pak<br />
1. sahkah  Surat cerai yang dimiliki Istri saya itu sementara saya belum mengucapkan talak / kata cerai sekalipun kedia di pengadilan agama.<br />
2.Bagaimana bisa dia mendapat surat kuning tsb? saya sekarang masih memegang surat Nikah kami.<br />
3. Saya juga ingin mengajukan gugatan cerai (untuk mendapatkan surat cerai) rencananya saya mau mengajukan surat perjanjian tidak akan saling tuntut menuntut dan gugat menggugat karena kami setuju membagi anak satu-satu.</p>
<p>Terima kasih saya ucapkan kepada Pak Anggara atas kesedian waktunya menjawab pertanyaan saya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: anggara</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20575</link>
		<dc:creator><![CDATA[anggara]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jul 2010 09:02:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20575</guid>
		<description><![CDATA[Pada dasarnya perceraian dapat terjadi atas permintaan kedua belah pihak, dan hal itu harus dimohonkan/digugat ke PA di tempat tinggal istri. soal harta gono - gini, sepanjang bisa dibuktikan bahwa harta tersebut diperoleh selama masa perkawinan maka termasuk harta gono gini. Sementara pada umumnya anak yang berusia dibawah 12 tahun menjadi hak pengasuhan ibunya.

Soal adil atau tidak adil, tentu relatif, namun pengadilan harus dapat menjalankan prosesnya dengan baik sehingga hak para pihak dapat terjamin dengan baik

Setiap perkara perdata tidak mengharuskan memakai kuasa hukum, namun sangat disarankan ada memakai kuasa hukum, silahkan hubungi kantor - kantor hukum terdekat atau kantor bantuan hukum yang dapat membantu menangani perkara bapak]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pada dasarnya perceraian dapat terjadi atas permintaan kedua belah pihak, dan hal itu harus dimohonkan/digugat ke PA di tempat tinggal istri. soal harta gono &#8211; gini, sepanjang bisa dibuktikan bahwa harta tersebut diperoleh selama masa perkawinan maka termasuk harta gono gini. Sementara pada umumnya anak yang berusia dibawah 12 tahun menjadi hak pengasuhan ibunya.</p>
<p>Soal adil atau tidak adil, tentu relatif, namun pengadilan harus dapat menjalankan prosesnya dengan baik sehingga hak para pihak dapat terjamin dengan baik</p>
<p>Setiap perkara perdata tidak mengharuskan memakai kuasa hukum, namun sangat disarankan ada memakai kuasa hukum, silahkan hubungi kantor &#8211; kantor hukum terdekat atau kantor bantuan hukum yang dapat membantu menangani perkara bapak</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: dwi</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20571</link>
		<dc:creator><![CDATA[dwi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Jul 2010 12:18:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20571</guid>
		<description><![CDATA[Assalammual&#039;aikum wr.wb.... pak. anggara saat ini saya sedang menghadapi msalah rumah tangga, dan istri saya menggugat cerai saya.... saya kurang bisa menerima dan saya sudah berusaha mencoba membuat rumah tangga saya utuh kembali.. usaha saya baik secara lahir/ batin. tapi sampai 1 bulan lebih ini tidak ada penyelesaian nya dan istri saya bersikukuh ingin bercerai.... alasan nya untuk bercerai pun berubah-ubah, 
yang mau saya tanyakan: 
1.Dalam kasus saya ini kan di sebut talak khulu; dalam islam maka khulu artinya memuntahkan atau mengembalikan, dan semua pemberian atau minimalnya mas kawin harus di kembalikan kepada suami, dan di serahkan kepada pengadilan. apa benar seperti itu adanya? apabila di persidangan nanti.
2. istri saya ini sudah meninggalkan rumah/ atau kata orang sunda sudah turun dari rumah, dengan membawa anak saya, dan keluar dari rumahnya sewaktu saya tidak ada di rumah, sebelumnya saya sudah memohon kepada ibu mertua saya untuk mencegah istri saya meninggalkan rumah, soalnya klo saya langsung melarang ke istri saya, dia malah akan menantang. itu tidak saya harapkan. memang saya waktu pertengkaran kami itu, saya mengeluarkan baju hampir setengah isi lemari, setelah dua atau tiga hari setelah kejadian istri saya lalu meninggalkan  rumah. dan tidak ada ucapan lisan mengusir atau menyuruh dia keluar dari rumah, dan lagi waktu itu saya dalam keadaan emosi, karna ucapan istri saya juga yang bilang *anjing, goblok kepada saya*. 
         
**** jadi apakah itu bisa di katakan saya mengusir dia dari rumah?  

    Menurut yang saya tahu di ajaran agama islam  klo seorang istri di anggap salah klo sudah meningglkan rumah, dengan alasan apapun. dan dalam hal ini, saya tidak melihat alasan yang tepat, kenapa istri saya meninggalkan rumah, yang saya maklumi istri saya masih dalam keadaan emosi, dan terus saya bujuk agar mau kembali ke rumah tapi tetap tidak mau.
   yang lebih sakit lagi tadi malam istri saya dengan seenaknya membawa dan mengangkut  perabotan rumah, dan mengklaim bahwa semua barang di rumah adalah milik dia, saat ini ngnya hanya sebagian, karna saya cegah di sebabkan perkara kami pun baru mau sidang belum ada keputusan apa-apa dari pengadilan agama. dan saya saat ini dalam keadaan berduka cita, kakek saya baru saja meninggal....

 ****Bagaimana saya menyikapi tindakan istri saya ini. yang seenaknya saja, saya bingung klo  saya emosi, pasti saya di salahkan, tapi klo saya diamkan, istri saya semakin keterlaluan.???

 ****Apa benar klo istri meninggalkan rumah maka istri tidak mendapatkan hak apapun, kecuali atas keridhoan suaminya? apakah nanti di pengadilan seperti itu?

 ****saya mengecek ke kantor PA, apakah istri saya sudah ada mendaftar di PA. dan jawaban dari orang PA, memang ada malah istri saya memakai kuasa hukum, 
       Apa yang harus saya lakukan apa perlu saya juga memakai kuasa hukum, tapi dengan melihat kasus saya ini, apakah saya bisa menang, tanpa memakai kuasa hukum, apakah nanti nya bakal benar-benar adil putusan pengadilan??????

****saya mempunyai rumah, dan ini bukan dari hasil kerja saya atau hasil kerja istri saya, melainkan di bangun dan 100% di biayai oleh orang tua saya, dan memang selama hampir 6 tahun kami menikah, kami masih dapat subdidi dari orang tua saya. bahkan istri saya pun di biayai kuliah perawatnya oleh orang tua saya. 
    -bagaimana dalam hal rumah ini klo dia menuntut harta gono-gini, atau lawyer nya nuntut yg macem-macem, bagaimana jawaban saya agar rumah, tidak termasuk dalam harta gono-gini,??? 
awalnya dia tidak menginginkan rumah ini hanya mau anak. karna tahu asal-usul rumah ini. tapi segala kemungkinan bisa terjadi apalagi dia pake lawyer.
**** dalam hal hak asuh anak, apakah bisa jatuh ke saya, karna saya tahu keadaan keluarganya, dan lagi dia dalam keadaan bekerja dan yang mengasuh adalah ibu nya, sedangkan saya seorang wiraswasta. jadi keseharian saya dengan anak kami lebih banyak saya daripada dia..... dan dari segi ekonomi, darimana dia bisa membiayai (honorer dengan gaji 150 ribu/ bulan) karna selama ini orang tua saya juga yang menanggung biaya anak saya ini, dan sampai sekarang masih minum susu Formula yang harganya 94rb/ kaleng, cuma ke pakai selama 4-5 hari. saya memikirkan masa depan anak saya ini, klo hak asuh anak jatuh ke istri saya maka orang tua saya tidak membiayai lagi, sedangkan saya pun masih belum sanggup klo tidak ada dukungan dari orang tua. 
****bagaimana nanti nya, keputusan pengadilan, apa saja yang menjadi pertimbangan dalam hak asuh anak?

   tolong saya pak anggara, saya benar-benar tidak tahu hukum, dan saya saat ini benar-benar merasa tertindas, sendiri di sini, saya hanya menghadapi ini hanya dengan tawakkal kepada Allah S.W.T, tolong pak klo bisa jawaban di kirim ke email saya, dan saya minta email pak anggara atau nomer yang bisa saya hubungi

terima kasih sebelumnya pak Anggara, dan saya mohon jawabannya..
  Semoga Allah S.W.T memberikan balasan atas bantuan bapak ini. 

wassalammua&#039;laikum wr.wb]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalammual&#8217;aikum wr.wb&#8230;. pak. anggara saat ini saya sedang menghadapi msalah rumah tangga, dan istri saya menggugat cerai saya&#8230;. saya kurang bisa menerima dan saya sudah berusaha mencoba membuat rumah tangga saya utuh kembali.. usaha saya baik secara lahir/ batin. tapi sampai 1 bulan lebih ini tidak ada penyelesaian nya dan istri saya bersikukuh ingin bercerai&#8230;. alasan nya untuk bercerai pun berubah-ubah,<br />
yang mau saya tanyakan:<br />
1.Dalam kasus saya ini kan di sebut talak khulu; dalam islam maka khulu artinya memuntahkan atau mengembalikan, dan semua pemberian atau minimalnya mas kawin harus di kembalikan kepada suami, dan di serahkan kepada pengadilan. apa benar seperti itu adanya? apabila di persidangan nanti.<br />
2. istri saya ini sudah meninggalkan rumah/ atau kata orang sunda sudah turun dari rumah, dengan membawa anak saya, dan keluar dari rumahnya sewaktu saya tidak ada di rumah, sebelumnya saya sudah memohon kepada ibu mertua saya untuk mencegah istri saya meninggalkan rumah, soalnya klo saya langsung melarang ke istri saya, dia malah akan menantang. itu tidak saya harapkan. memang saya waktu pertengkaran kami itu, saya mengeluarkan baju hampir setengah isi lemari, setelah dua atau tiga hari setelah kejadian istri saya lalu meninggalkan  rumah. dan tidak ada ucapan lisan mengusir atau menyuruh dia keluar dari rumah, dan lagi waktu itu saya dalam keadaan emosi, karna ucapan istri saya juga yang bilang *anjing, goblok kepada saya*. </p>
<p>**** jadi apakah itu bisa di katakan saya mengusir dia dari rumah?  </p>
<p>    Menurut yang saya tahu di ajaran agama islam  klo seorang istri di anggap salah klo sudah meningglkan rumah, dengan alasan apapun. dan dalam hal ini, saya tidak melihat alasan yang tepat, kenapa istri saya meninggalkan rumah, yang saya maklumi istri saya masih dalam keadaan emosi, dan terus saya bujuk agar mau kembali ke rumah tapi tetap tidak mau.<br />
   yang lebih sakit lagi tadi malam istri saya dengan seenaknya membawa dan mengangkut  perabotan rumah, dan mengklaim bahwa semua barang di rumah adalah milik dia, saat ini ngnya hanya sebagian, karna saya cegah di sebabkan perkara kami pun baru mau sidang belum ada keputusan apa-apa dari pengadilan agama. dan saya saat ini dalam keadaan berduka cita, kakek saya baru saja meninggal&#8230;.</p>
<p> ****Bagaimana saya menyikapi tindakan istri saya ini. yang seenaknya saja, saya bingung klo  saya emosi, pasti saya di salahkan, tapi klo saya diamkan, istri saya semakin keterlaluan.???</p>
<p> ****Apa benar klo istri meninggalkan rumah maka istri tidak mendapatkan hak apapun, kecuali atas keridhoan suaminya? apakah nanti di pengadilan seperti itu?</p>
<p> ****saya mengecek ke kantor PA, apakah istri saya sudah ada mendaftar di PA. dan jawaban dari orang PA, memang ada malah istri saya memakai kuasa hukum,<br />
       Apa yang harus saya lakukan apa perlu saya juga memakai kuasa hukum, tapi dengan melihat kasus saya ini, apakah saya bisa menang, tanpa memakai kuasa hukum, apakah nanti nya bakal benar-benar adil putusan pengadilan??????</p>
<p>****saya mempunyai rumah, dan ini bukan dari hasil kerja saya atau hasil kerja istri saya, melainkan di bangun dan 100% di biayai oleh orang tua saya, dan memang selama hampir 6 tahun kami menikah, kami masih dapat subdidi dari orang tua saya. bahkan istri saya pun di biayai kuliah perawatnya oleh orang tua saya.<br />
    -bagaimana dalam hal rumah ini klo dia menuntut harta gono-gini, atau lawyer nya nuntut yg macem-macem, bagaimana jawaban saya agar rumah, tidak termasuk dalam harta gono-gini,???<br />
awalnya dia tidak menginginkan rumah ini hanya mau anak. karna tahu asal-usul rumah ini. tapi segala kemungkinan bisa terjadi apalagi dia pake lawyer.<br />
**** dalam hal hak asuh anak, apakah bisa jatuh ke saya, karna saya tahu keadaan keluarganya, dan lagi dia dalam keadaan bekerja dan yang mengasuh adalah ibu nya, sedangkan saya seorang wiraswasta. jadi keseharian saya dengan anak kami lebih banyak saya daripada dia&#8230;.. dan dari segi ekonomi, darimana dia bisa membiayai (honorer dengan gaji 150 ribu/ bulan) karna selama ini orang tua saya juga yang menanggung biaya anak saya ini, dan sampai sekarang masih minum susu Formula yang harganya 94rb/ kaleng, cuma ke pakai selama 4-5 hari. saya memikirkan masa depan anak saya ini, klo hak asuh anak jatuh ke istri saya maka orang tua saya tidak membiayai lagi, sedangkan saya pun masih belum sanggup klo tidak ada dukungan dari orang tua.<br />
****bagaimana nanti nya, keputusan pengadilan, apa saja yang menjadi pertimbangan dalam hak asuh anak?</p>
<p>   tolong saya pak anggara, saya benar-benar tidak tahu hukum, dan saya saat ini benar-benar merasa tertindas, sendiri di sini, saya hanya menghadapi ini hanya dengan tawakkal kepada Allah S.W.T, tolong pak klo bisa jawaban di kirim ke email saya, dan saya minta email pak anggara atau nomer yang bisa saya hubungi</p>
<p>terima kasih sebelumnya pak Anggara, dan saya mohon jawabannya..<br />
  Semoga Allah S.W.T memberikan balasan atas bantuan bapak ini. </p>
<p>wassalammua&#8217;laikum wr.wb</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: nia</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20557</link>
		<dc:creator><![CDATA[nia]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 07:52:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20557</guid>
		<description><![CDATA[saya telah di  putus cerai dan saya mendapat hak asuh ke 3 anak saya. tapi mantan suami tidak mau berpisah sama anak2,dan mempersulit saya mengambil/ketemu anak2. sekolah anak2 tepat berada di depan rumah mantan suami jadi saya sulit untuk menjemput anak2 karna selalu diawasi mantan suami. mantan suami saya tidak bekerja hanya menggantung ortu nya yang memang kaya dan punya usaha Penyalur tenaga kerja/pembantu. saya ingin mengurus pindah KK, tapi akta anak dan KK berada di mantan suami sehingga saya sulit mengurus pindah. saya sudah sering meminta baik2 KK dan akta anak tapi dia tidak pernah mau kasih. apa bisa saya melaporkan mantan suami saya ke polisi ?]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya telah di  putus cerai dan saya mendapat hak asuh ke 3 anak saya. tapi mantan suami tidak mau berpisah sama anak2,dan mempersulit saya mengambil/ketemu anak2. sekolah anak2 tepat berada di depan rumah mantan suami jadi saya sulit untuk menjemput anak2 karna selalu diawasi mantan suami. mantan suami saya tidak bekerja hanya menggantung ortu nya yang memang kaya dan punya usaha Penyalur tenaga kerja/pembantu. saya ingin mengurus pindah KK, tapi akta anak dan KK berada di mantan suami sehingga saya sulit mengurus pindah. saya sudah sering meminta baik2 KK dan akta anak tapi dia tidak pernah mau kasih. apa bisa saya melaporkan mantan suami saya ke polisi ?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Ayu Marlika Leni Putri</title>
		<link>http://anggara.org/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20440</link>
		<dc:creator><![CDATA[Ayu Marlika Leni Putri]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 05:33:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://anggara.wordpress.com/2006/09/28/tentang-perceraian/#comment-20440</guid>
		<description><![CDATA[Perceraian itu sebaiknya dihindarkan karena akan membuat anak menjadi korban. sebagai orangtua tanggung jawab kita bukan hanya pada diri sendiri namun juga pada anak kita.]]></description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Perceraian itu sebaiknya dihindarkan karena akan membuat anak menjadi korban. sebagai orangtua tanggung jawab kita bukan hanya pada diri sendiri namun juga pada anak kita.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

