A Walk To Remember (Part 3: SMU)

Posted on Desember 18, 2007

14


Pertama sekolah SMU di SMUN 4 Medan, saat itu waktu daftar SMU, ayahku dipindah lagi ke Tangerang, tapi berhubung aku masih senang ada di Medan. Aku tinggal di Medan bareng sama kakakku.

Ada beberapa kawan yang masih teringat di memori, Aji, Sarjono, dan Vina (kedua-duanya teman di SMPN 1 Medan, cuma si Aji dulu cuma kenal-kenal biasa) Aku sama di Aji itu satu kelas, bahkan duduk satu meja dan kami menciptakan kolaborasi yang luar biasa dalam hal contek mencontek kalau ada ujian kimia dan biologi. Sampai ada cerita ketika ujian matematika aku malah membahas soal ujian tersebut di kelas bareng si Aji dan herannya koq nggak ada guru yang menegur yaa he..he..he..

Hal yang menyebalkan ketika masuk di SMU di SMUN 4 Medan, aku mulai menemukan segregasi pertemanan berbasis agama. Memang tidak salah, hanya menurutku yang terbiasa hidup nomaden dan pernah menjadi kaum minoritas sekaligus mayoritas di Timor Leste, sungguh tidak menyenangkan kalau hubungan pertemanan diwarnai oleh hubungan keagamaan yang sangat primitif tersebut. Menurutku sih keyakinan tetaplah menjadi keyakinan dan jangan kemudian membatasi diri dalam pertemanan

Oya, sempat punya pacar dia sekolah di SMUN 17 Medan namanya Mahani Asih, kita putus waktu aku pindah ke Tangerang. Sempat suka pergi ke diskotek yang terletak di Jl, Thamrin tempat nongkrong waktu itu di kampung keeling dan jalan raya yang ada asrama hajinya

Kelas 2, aku masuk di SMUN 63 Jakarta Selatan, duh sekolah ini kayak kandang kambing banget. Punya pacar yang sekolah di SMUN 90 Jakarta Selatan (yang sekarang jadi ibu dari dua anakku). Waktu kelas dua, sempat dimusuhi sama teman-teman, karena malas terlibat tawuran dan ikut genk sekolah yang ada di sana, namanya MODERAT kalau nggak salah. Sempat dekat dengan beberapa teman perempuan diantaranya Erika, Eri, dan Feby, serta mungkin ada beberapa lagi, sayang sungguh sulit untuk mengingat kembali dan rasanya tidak perlu untuk diingat lagi

Pengalaman yang menyenangkan, yaitu memimpin aksi menolak pemakaian sepatu hitam dari merk tertentu yang harus dibeli dari sekolah dan berhasil! Kemudian memimpin aksi menolak penempatan TPS di sekolah waktu pemilu 1997 di sekolah, sempat dimusuhi sama kepala sekolah dan beberapa guru yang diuntungkan dengan pemilu “palsu” itu, tetapi berhasil juga minimal TPS-nya tidak lagi terletak di sekolah, tetapi bergabung dengan masyarakat sekitar. Selain itu memimpin aksi menolak acara perpisahan yang berbiaya mahal sekali dan berhasil juga. Aksi-aksi waktu itu membuka mataku, bahwa hukum harus menjadi alat untuk melindungi hak-hak dari setiap warga negara, dan karena itu tekadku mantap memilih hukum sebagai pilihan studiku.

Waktu UMPTN memilih UI (matematika), UI (hukum), dan Unpad (hukum) yang keterima malah di Unpad, terus sempat ikut ujian penerimaan mahasiswa baru di Universitas Trisaktu, hukum juga, nggak diambil karena dapat yang UMPTN

Sewaktu di SMUN 63 ada beberapa kawan yang dekat diantaranya Dedy Dewantoro, Dibal, Joko, Aji, maaf buat yang tidak kesebut, karena sungguh sulit mengingat nama-nama dalam kurun waktu yang panjang.

Posted in: Keluarga