Saat rapat untuk persiapan sidang pleno UU Pornografi yang dipimpin oleh om Zainal di YLBHI terjadi perdebatan menarik. Saat itu om Zainal memikirkan serius soal pencitraan bahwa para pemohon adalah pendukung pornografi dan tidak memikirkan akibat dari pornografi terhadap anak – anak.
Kekuatiran ini menurut saya wajar, karena hadirnya KPAI sebagai pihak terkait dalam persidangan, 6 Mei, nanti. Saya sendiri tidak terlampau mengkuatirkan persepsi tersebut, karena hadirnya KPAI menurut saya malah menguntungkan para pemohon.
Disela-sela perdebatan seru tersebut, entah kenapa saya membuat pernyataan dengan menggunakan om zainal sebagai contoh. Sekejap saya langung tersadar, karena orang dapat mempersepsikannya lain, meski dalam pernyataan saya tidak ada mens rea dan juga animus injuriandi disana. Selain itu saya juga tidak sadar bahwa peserta rapat tidak hanya terdiri dari teman2 terdekat saja, namun juga dari teman2 lain
Setelah pertemuan ditutup, saya langsung meminta maaf pada om zainal, karena pernyataan saya bisa saja ditafsirkan lain oleh para peserta rapat. Meski om zainal menyatakan sudah tidak ingat lagi, namun tetap saja saya merasa bersalah, dan malamnya saya masih menelpon om zainal untuk menyampaikan rasa penyesalan dari saya.
Tetapi, “keceplosan” itu tetap membuat saya tidak bisa tidur tenang, melalui tulisan ini saya menyadari bahwa saya sudah cukup ceroboh kemarin. Maaf ya om.








Chic
Mei 1, 2009
wakakakakakaka jadiin si jenal sebagai contoh apa om? jadi penasaran..
anggara
Mei 4, 2009
@chic
jangan deh, ntar jadi masalah besar lagi hehehehehehehehe
blogger senayan
Mei 1, 2009
salam keanal
hehehe, ya kadang hal beginian nggk sengaja, salut mo minta maaf
bos bisa tukeran link?
kabari aku kalo berkenan. aku sudah link di blogroll
anggara
Mei 4, 2009
@blogger senayan
terima kasih yaa
Iko
Mei 2, 2009
Yang penting kita cepat mengakui kesalahan kita, mas….
anggara
Mei 4, 2009
@iko
iya ko, memang harusnya begitu, cuma aku enggak enak aja
jumeno ganteng tiada taranya
Mei 4, 2009
iya nich kecemplosannya kagak di tulis jadi penasaran di jadiin contoh apa…
anggara
Mei 4, 2009
@jumeno ganteng
enggak ah, malu aku hehehehehehehe
krupukulit
Mei 4, 2009
jadi selama ini loe jadiin zaenal sebagai ‘bahan’ imaginasi loe? ck ck ck…ternyata…
anggara
Mei 4, 2009
@krupukulit
bukan zainal om tapi dirimu
Kedodoran
Mei 4, 2009
tidak apa-apa kalau keceplosan daripada kedodoran.
anggara
Mei 7, 2009
@kedodoran