Kosong

Posted on Juli 16, 2009 by anggara

3


Saat itu, aku terdiam waktu ku dengar kau berkata lirih. Hidup ini pilihan katamu, dan aku kembali terdiam. Jernih matamu terlihat perih meski senyummu terus tertancap. Jangan menangis kataku, tak mudah menghapus jejak meski tertimbun pasir.

Aku percaya kamu bukan pendusta katamu, tapi memilih menjauh adalah persoalan lain. Aku memilih diam dan terpaku kosong. Hari ini, saat kamu tertunduk, aku tiada kuasa untuk merengkuhmu.

Aku tahu mestinya kau bisa terlonjak senang saat ini, dan akupun ikut senang karenanya.

Tapi angin telah bertiup lambat menjauhkan waktu dan di titik itu kilometer tak pernah bergerak. Aku mungkin masih mampu membuat sketsa di atas angin, tapi tak pernah aku berani memimpikannya.

Masihkah kau mengingatnya saat tawa kecil itu menyala? Saat gairah itu meletup? Percayalah akan keabadian yang ditawarkan sang beruang, karena ia mampu menjaganya dan karena detik tak mampu menggangunya

Salamku untukmu selalu, semoga mentari pagi mampu menjagamu saat ini dan nanti…

This entry sent by Anggara from Nokia E 71 and powered by Telkomsel. Thanks http://anggara.org

Posted in: Puisi