Kritik Itu Tanda Cinta

Posted on September 1, 2009

7


Banyak orang yang alergi kritik, apalagi kalau kritik itu adalah kritik yang ditujukan terhadap dirinya. Namun kritik juga dapat menjadi tanda cinta. Kalimat itulah yang saya sampaikan terhadap salah satu rekan saya, Ali Salmande. Biar jelek dan norak, saya ini pembaca setia dari hukumonline, namun entah mengapa ada dua berita yang menurut saya harusnya lebih tajam dan tidak mengambang dalam membuat liputannya.

Sebagai contoh analisis saya berikan berita dengan judul “RUU Kearsipan Menebar Lebih Banyak Ancaman Pidana”. Judul ini tentu membuat saya melakukan klik untuk melihat beritanya. Namun sayang dari 14 paragraf (15 kalau dihitung lead berita) maka hanya ada satu paragraf yang mencerminkan judul yaitu di paragraf 11. Namun sayangnya tidak ada penjelasan, perbuatan apa saja yang hendak di kriminalisasi dan apa persamaannya dengan aturan pidana yang sudah ada.

Contoh yang lain adalah berita dengan judul “Dua Penari Seksi ‘Sihir’ Sidang Mahkamah Konstitusi”. Ini cerita ringan soal kehadiran para penari yang menjadi bukti dalam Pengujian UU Pornografi kemarin. Berita dengan 11 paragraf (12 jika dihitung lead berita) itu sungguh menarik. Namun sayang ada baris kalimat yang agak mengganggu yaitu pada paragraf 10, dan entah kenapa penulusuran yang dilakukan hanya pada video youtube. Menurut saya, akan lebih menarik jika hukumonline menghubungi kantor penghubung pemda Sulawesi Utara di Jakarta dan/atau jika mungkin pakar kebudayaan di sulawesi utara untuk mengkonfirmasi temuannya di youtube apakah sama dengan tarian yang disajikan di MK?

Posting via Email

Posted in: Lain-Lain