Ambisi (Bagian I)

Posted on Januari 3, 2010 by anggara

8


Beberapa hari yang lalu, saya bertemu dengan salah seorang kawan baik saya. Sudah lama saya tak pernah berjumpa dengannya. Pada saat menerima telpnya, tentu saya merasa senang untuk menerima undangannya untuk sekedar menikmati sore Jakarta

Kawan saya ini, Andra, tinggal di Semarang, kebetulan ia berada di Jakarta untuk urusan kantornya. Walhasil kamipun terdampar di sebuah cafe untuk menikmati kopi dan susu coklat hangat.

Tak lama setelah saling bertukar kabar, iapun bercerita kalau ia sedang kesal dan galau menghadapi beberapa situasi yg teramat sulit bagi dirinya. Ia merasa begitu banyak orang yg berambisi pada kekuasaan dan jabatan hingga tak segan menyerang secara pribadi terhadapnya. Sayapun tersenyum dan berkata itulah demokrasi bung. Andra tertawa kecil dan tersenyum, ia mengisahkan bahwa pada saat ia menjadi aktivis di sebuah ormas di Jogja dan ormas tersebut hendak melakukan Kongres, ia diisukan menjadi putra mahkota dari Ketua Umum yang lama. Masalahnya menurut Andra adalah tak hanya isu tersebut yang disebar ke banyak tempat namun juga serangan terhadap kehidupan pribadinya, yang saya kenal memang glamor dan tak mirip sama sekali dengan dunia aktivis.

Tapi, lanjutnya, Andra memilih hengkang daripada meladeni isu tersebut dari orang yang disebutnya sangat berambisi menjadi Ketua Umum. Dan yang paling konyol adalah saat Kongres, orang tersebut hanya mendapat satu suara. Kami berdua tergelak saat ia mengakhiri ceritanya dengan mimik muka yang serius.

Yah itulah hidup bro, kata saya yang sok bijak ini. Banyak orang yang merasa mampu dan bisa sehingga tak segan menggunakan segala cara untuk meraih ambisinya. Saya tahu, kawan baik saya ini jauh dari ambisi meraih jabatan atau kekuasaan pun demikian untuk menjadi populer. Maklum ia adalah kawan saya sedari kecil, meski jarak dan pandangan ideologi memisahkan kami, tapi saya tetap menghormati ia sebagai seorang kawan dan juga sahabat meski pandangan kami kerap berbeda.

Andra tersenyum sejenak sambil menerawang, kisah berulang kembali Ngga. Heh koq bisa? saya menjawab dengan keheranan. Entah, iapun menjawab dengan lesu. Sayapun berkata, demokrasi memang membuat dinamis kehidupan, dan siapapun yang hendak menjadi pemimpin harus mau dikuliti bahkan ke hal yang paling kecil sekalipun meski itu akan lebih banyak melupakan apa yang pernah kau lakuka bung. Ia tersenyum dan berkata membalas haruskah demikian kawan?

Terus terang saya tak mampu menjawab pertanyaannya, tapi satu hal yang saya yakini, ambisi terhadap kekuasaan dan jabatan memang akan membutakan orang banyak. Dan setiap pilihan bukanlah pilihan yang salah, namun apakah pilihan itu akan membawa kita fokus pada gagasan serta tujuan dan cita – cita kita?

Posted in: Lain-Lain