Freedom Flotilla, Lusitania Espresso, dan Hari Lahir Pancasila

Posted on Juni 1, 2010

17



“Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman-sarinya internasionalisme.” (Seokarno, 1 Juni 1945)

Saat ini kita memperingati hari lahirnya Pancasila, pada 65 tahun silam, Soekarno berpidato tentang Pancasila. Pidato yang memukau para peserta sidang BPUPKI dan yang akhirnya menerima Pancasila sebagai dasar dari negara Indonesia.

Tapi saat ini dunia berguncang karena masih adanya konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina, konflik yang menurut saya bukanlah konflik agama, akan tetapi konflik yang disebabkan oleh perjuangan kemerdekaan dalam melawan penindasan.

Konflik yang kemudian membawa jutaan orang di kawasan itu menderita berkepanjangan. Konflik itu telah membawa setidaknya 800 orang aktivis, dokter, dan anggota parlemen dari 40 negara membawa bantuan kemanusiaan sebanyak 10 ribu ton berupa semen, generator, pemurni air, buku dan alat tulis, rumah rakitan, alat medis, peralatan olahraga, cokelat dalam kapal yang bernama Kapal Mavi Marmara dimana misi kemanusiaan tersebut diberinama Armadan Kebebasan (Freedom Flotilla).

Kapal yang berangkat dari pelabuhan Antalya, Turki pada 28 mei 2010 dan membawa para aktivis kemanusiaan itu tentu didorong oleh motif kemanusiaan terlepas dari asal kebangsaan dari masing – masing aktivis tersebut. Relevan bukan dengan pidato Soekarno saat itu? Saat itu Seokarno berkata “Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia”.

Sayang, armada itu ternyata disergap oleh empat kapal militer dan diserbu oleh pasukan militer bersenjata dan mengakibatkan 16 orang tewas. Tempo menuturkanSaat armada kapal bersiap masuk wilayah perairan Palestina, tiba-tiba pasukan komando Israel menyerbu. Mereka naik ke geladak kapal, menembaki para relawan, lalu menahan kapal itu di pelabuhan Israel. Korban tewas berjatuhan. Israel menyebutkan korban tewas 10 orang. Sebaliknya, kalangan aktivis menyebutkan korban tewas 16 orang selain belasan luka. Kontak dengan kapal itu terputus sampai sekarang, sehingga bagaimana situasi sesungguhnya belum jelas.

Peristiwa itu membawa saya pada Tragedi 12 November 1991 di Dilli dan juga insiden dengan kapal Lusitania Espresso. Begitu mirip meski tak sama. Menurut sebuah laporan, kapal Lusitania Espresso membawa mahasiswa, buruh, laki – laki, perempuan, tua muda, anggota parlemen dari Italia, Perancis, Kanada, Indonesia, Belanda, Brazil, Australia, Inggirs, Portuis, India, Jepang, Swedia, Jerman, dan beberapa dari negara Afrika. Aksi mereka juga jelas, menentang Tragedi 12 November 1991 di pekuburan Santa Cruz. Saya ingat kedua peristiwa itu, karena saya sempat tinggal di Dilli, Timor Leste. Saat itu kapal Lusitania Espresso dihadang oleh 2 – 3 KRI dan dilaporkan telah mengancam akan menembak Kapal Lusitania Espresso jika memasuki wilayah laut Indonesia. Tak ada korban memang tapi saat itu tak banyak media massa melaporkan secara independen tentang Insiden Lusitania Espresso. Jadi kita tak bisa tahu apa yang terjadi saat itu

Buat saya sendiri, saya menentang “agresi” tak beradab pada kapal atau penerbangan yang membawa misi kemanusiaan apapun dalihnya. Dan saya berharap warga dunia tak lelah menolong manusia – manusia di kawasan konflik tersebut.

Simpati dan duka saya mendalam untuk mereka,semoga Tuhan selalu bersama mereka dan menjadi Penolong mereka yang membutuhkan

Posted in: Lain-Lain