Iklan

Tentang Pornografi


Perdebatan pornografi sudah lama di Indonesia, tetapi muncul pemantiknya dengan munculnya majalah Playboy Indonesia, sekarang pemimpin redaksinya sedang menjalani, proses persidangannya.

Nah kemudian sebagian kelompok menggagas perlunya UU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang menjadi pro-kontra dikalangan masyarakat. Saya sendiri tidak terlibat dalam perdebatan tersebut, karena sebenarnya ada benang merahnya yaitu kedua kelompok tersebut sama-sama anti pornografi dan sama-sama ingin melindungi kaum perempuan dan anak-anak yang akan menjadi korban kebuasan kapitalisme industri pornografi.

Saya sendiri menganggap bahwa masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak bukan karena disebabkan maranya peredaran barang-barang porno, tetapi justru karena larangan peredaran barang-barang porno. Kenapa karena dengan dilarang maka akan banyak dicari, seperti hantu komunisme yang dilarang, semakin dilarang semakin dicari.

Pornografi itu hanya menjadi salah satu penyebab dari kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak bukan menjadi faktor tunggal, apalagi kalau dikaitkan dengan moral, walah jauh banget.

Kalau kita boleh jujur, angka kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak di negara-negara yang super ketat melarang pornografi justru jauh lebih tinggi dan itu biasanya system hukumnya tidak menjamin kaum perempuan dan anak-anak memperoleh keadilan. Selain itu moral pemimpin di negara-negara tersebut juga patut dipertanyakan, korupsi juga koq, besar banget malah, dan terjadi diskriminasi hukum di tempat tersebut.

Menurutku, peredaran barang-barang pornografi itu harus diatur, bukan dilarang, percuma melarang, karena justru akan menyuburkan praktek kolusi dan suap. Hukum tidak boleh membuat pengaturan tentang apa yang disebut dengan sopan, budaya, dan susila. Karena ketiga norma tersebut sesungguhnya terus berkembang dan dinamis dan tidak ada satu tafsir tunggal terhadapnya.

Nah, kembali soal pengaturan pornografi, peredarannya yang harus diatur, kemudian usia dewasa juga diatur tegas misalnya ditetapkan umur 18 tahun atau umur 21 tahun seseorang dianggap dewasa. Indonesia menganut begitu banyak konsep usia dewasa. Misalnya kalau pemilu dianggapa dewasa kalau sudah 17 tahun atau pernah kawin, sementara untuk kawin seseorang dianggap dewasa kalau sudah berumur 16 tahun (perempuan) dan 18 tahun (laki-laki). Buat KTP juga 17 tahun, buat SIM C 16 tahun, buat SIM A 18 tahun (kalau nggak salah), dalam hukum perdata usia dewasa ditetapkan 21 tahun. Nah nggak jelas kan, jadi harus ada batas usia kapan seseorang dianggap dewasa untuk menyatakan bahwa dia sadar kalau dia membeli produk atau barang yang bersifat pornografi akan mempunyai konsekuensi baik dan buruk.

Iklan
6 comments
  1. Vy... said:

    Fight For Woman and Child !!!

  2. FheneLa said:

    duhk…
    setuju banget ma pendapat ini

    Terutama buat demonstrasi yang kadang gak jelas, baik yang demo atau maksud demonya.
    Terlalu banyak permintaan gitu tuh orang indonesia…
    Nuntut aja, coba kalau kita berusaha gak cuma buat macet sana sini dengan demo.
    Kemana seeh ajaran gotong royong itu ????

    Halo… apalagi kalau sampe nyuruh Presiden turun !!!
    Mangnya presiden kayak gimana seeh yang paling ideal (ideal itu ada diangan-angan)…

    Plizzz deh….

  3. Hannie said:

    bisa saya setujui, hehehe…

    soalnya emang bener sih, makin dilarang malah bikin penasaran (teori gitu loh)

    mending “diemin” aja, tapi dipantau terus biar ga berkembang

  4. iken said:

    masalah pornografi tidak bisa diselkesaikan secara parsial saja, tetapi harus secara holistik atau menyeluruh.
    tidak bisa kita menyelesaikan masalah pornografi tetapi tidak menyelsaikan masalah ekonomi. tidak bisa pula menyelesaikan masalah pornografi tetapi politik tidak di bahas samasekali. jika anda berpikir masalah ini harus diselesaikan secara satu tahap, sedikit-demi sedikit, ya itulah pikiran yang ada sejak jaman dahulu kala hingga saat ini. dan pikiran seperti itulah yang membuat negara ini semakin terpuruk.

    pernah berpikir untuk mengganti sistem demokrasi yang buruk ini?

  5. anggara said:

    @iken
    kalau demokrasi diganti, pakai sistem apa yaa

  6. MOMO said:

    sok mantap x klen….

    sok-sok mo brantas pornografi,demon pulak lagi….

    manusia tu g akn prnh lpZ dr pornografi..

    skrg mslhnya,mo di bw kmana arh pornografi itu…
    ke arh yg positif ato enggak……..

    jd jgn sok alim wahai manusia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: