Iklan

Hidup Dengan Infotainment


Tumben nih saya bicara infotainment, kenapa ya? Saya cari alasannya dulu deh 🙂 oya karena kemarin ceritanya ada Hari Pers Nasional, meski menurut saya itu adalah Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)

Nah, berhubung PWI adalah satu2nya organisasi wartawan yang mengakui pekerja infotainment sebagai wartawan, maka saya akan bahas soal posisi pekerja infotainment ini.

Pada umumnya organisasi2 jurnalis/wartawan menolak memasukkan pekerja infotainment masuk dalam kategori jurnalis/wartawan, terutama AJI. Alasan terutamanya pada pokoknya adalah karena jurnalis bekerja pada ranah publik sementara pekerja infotainment bekerja pada ranah privat. Namun kalau saya ditanya maka jawaban saya ada dua, bisa ya bisa juga tidak. Kenapa, demikian alasannya

Pertama kita harus cek dari sisi “bungkus”, yaitu apakah pekerja infotainment bekerja pada suatu entitas hukum? Misalnya pada suatu korporasi yang berbadan hukum? Yang lainnya adalah apakah korporasi tersebut tujuan utama dan satu-satunya, yang ada dalam Anggaran Dasarnya adalah menyelenggarakan usaha pers? Kalau iya, maka jawabannya secara “bungkus” mereka adalah jurnalis/wartawan dan korporasinya adalah korporasi pers.

Dari titik itu baru beranjak pada sisi yang lain seperti apakah mereka mentaati KEJ? Punyakah standar kompetensi wartawan/korporasi pers? Kalau jawabannya ada semua, maka secara hukum dan sosiologis mereka itu ya jurnalis/wartawan.

Saya sendiri tidak tahu apakah korporasi infotainment dan pekerja infotainment tersebut memiliki syarat2 formal dan substantif tersebut untuk disebut sebagai pers/jurnalis/wartawan?

Untuk sementara saya hanya ingin menyebutnya sebagai pekerja hiburan 🙂 yah kadang2 menyenangkan terkadang juga sedikit terasa mengganggu. Tapi mestinya para seleb itu harusnya sadar, ini adalah satu resiko sebagai penghibur yang mau tidak mau ada sebagian kalangan masyarakat yang juga ingin mengetahui sisi – sisi pribadi dari idolanya itu.

Iklan
5 comments
  1. Darin said:

    infotainment? haduuh saya ga banyak komen deh 🙂
    Tapi acara yg satu itu memang ga mendidik bgt, adanya cuma gosip yg ga bermutu. Sya heran, koq masih bnyak orang yg minat bgt acara2 bgt ya, terutama remaja putri n ibu2. wah susah..
    Masalah wartawannya jg patut dicermati. kasus luna maya itu bukti konkret kebrutalan mereka yg seakan g peduli menisik kehidupan pribadi para selebritis. Saya ngebayangin, coba klo hidup mereka jg dikejar2 kayak para artis itu, atau jgn2 mereka dah benar2 lagu dikejer2 utang/tagihan? 🙂

    • anggara said:

      @darin
      Saya juga jarang nonton 🙂

  2. Dhany said:

    Kalo saya sebagai orang awam lebih memilih “say no to infotainment”.

    • anggara said:

      @dhany
      Ya ada yg suka dan yg tidak 🙂

  3. entong said:

    hhmmm aku juga jarang nonton infotaiment. informasinya suka mengada-ada gak jelas banget bukit validnya apa. trus suka gak penting ngomongin urusan cerai seleb atau slingkuhannya. yang jelas sich gak mendidik,hehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: