Iklan

Terorisme, Terduga, dan Extra Judicial Killing


Beberapa hari ini terjadi penangkapan dan penembakan terhadap orang – orang yang diduga terlibat aksi terorisme. Beberapa memang ditangkap tapi lebih banyak yang ditembak mati.

TV One, secara serampangan menggunakan kata “terduga” bagi orang – orang yang ditangkap atau ditembak mati oleh Polisi. Entah dari mana kata itu berasal, tapi yang jelas kata “terduga” bukanlah kata hukum dan penggunaan kata “terduga” bisa menimbulkan kebingungan bagi banyak orang.

Kemarin, Koran Tempo menurunkan berita dengan judul “Polri Minta Bisa Tahan Teroris Lebih Lama”. Sepertinya judul beritanya agak keliru karena sebenarnya Polri minta waktu penangkapan diperpanjang. Perpu No 1 Tahun 2002 yang disahkan melalui UU No 15 Tahun 2003 dalam Pasal 28 menyebutkan

Penyidik dapat melakukan penangkapan terhadap setiap orang yang diduga keras melakukan tindak pidana terorisme berdasarkan bukti permulaan yang cukup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2) untuk paling lama 7 x 24 (tujuh kali dua puluh empat) jam.

Ketentuan Pasal inilah yang diminta Polri untuk direvisi agar polisi dapat menangkap orang lebih lama dari waktu 7 hari yang sudah ditentukan oleh UU. Mudah2an mas ndorokakung dan jajarannya memeriksa penggunaan istilah ini

Back to Laptop, alasan polisi minta diperpanjang waktu penangkapan, seperti yang dituturkan oleh Koran Tempo adalah “Markas Besar Polri menganggap waktu pemeriksaan selama tujuh hari itu kurang untuk membuktikan keterlibatan seseorang yang ditangkap. “Waktu tujuh hari itu kendalanya. Waktu penyelidikan yang diberikan dalam undang-undang sangat sempit, mengingat sulitnya mengungkap kasus teroris,” kata juru bicara Markas Besar Polri, Inspektur Jenderal Edward Aritonang, kemarin.”. Problemnya apakah dengan memperpanjang waktu penangkapan maka kejahatan itu lebih bisa diungkap, saya agak ragu, karena jenis kejahatan ini memerlukan pengungkapan yang memakan waktu yang bahkan bisa tahunan. Namun yang lebih saya sesalkan adalah Pernyataan dari Ketua MK Mahfud MD yang menyatakan setuju dengan tindakan polisi menembak mati para teroris. Hal ini karena keberadaan teroris sangat berbahaya dan mengancam kehidupan masyarakat. “Saya masih setuju dengan yang dilakukan polisi. Saya tidak suka setiap tindakan tegas selalu dikecam melanggar HAM,” ujar Mahfud di gedung Mahkamah Konstitusi, dua hari yang lalu. Begitu Koran Tempo melaporkan.

Problemnya darimana ia tahu yang ditembak itu adalah pasti Teroris, dan bagaimana dengan jaminan hak konstitusional untuk dapat diadili di depan Pengadilan yang terbuka dan dan fair? Lupakah sang Ketua MK dengan itu semua? Buat saya, setiap orang, bahkan orang yang diduga keras terlibat dalam aksi – aksi Terorisme tetap berhak atas semua jaminan konstitusional yaitu berhak untuk di adili secara terbuka di muka Pengadilan yang diselenggaran secara jujur dan adil.

Ingat, saya tidak membela Terorisme atau orang – orang yang terlibat jaringan Terorisme. Namun saya membela hak – hak prosedural dalam sistem peradilan pidana pada mereka yang diduga terlibat dalam jaringan terorisme. Apapun alasannya, Polisi seharusnya lebih menekankan atau mengikhtiarkan penangkapan atau maksimal melakukan upaya melumpuhkan ketimbang menembak mati. Buat saya hal ini mirip dengan tindakan extra judicial killing.

Mereka yang sudah ditembak mati tentu tidak bisa lagi membela diri lagi untuk membuktikan apakah mereka terlibat atau tidak dalam jaringan terorisme. Dan keluarganya harus menanggung stigma yang dituduhkan oleh pihak kepolisian (tanpa dibuktikan di depan Pengadilan) dan kemudian tersebar luas melalui media.

Saya tidak sepakat dengan hukuman mati, tapi jika pilihannya adalah apakah orang – orang yang diduga keras itu harus ditembak mati di tangan polisi atau melalui pengadilan (setelah dibuktikan kesalahannya) maka saya memilih putusan hukuman mati dijatuhkan oleh Pengadilan. Setidaknya mereka telah dijamin keadilan proseduralnya sehingga saya yakin keadilan substansial akan tercapai.

Pertanyaannya apakah pemerintah takut dengan ongkos politik membawa orang – orang yang diduga terlibat dalam jaringan terorisme itu ke Pengadilan? Saya juga nggak tahu, tapi saya menyesalkan setiap orang – orang yang dibunuh atau ditembak mati tanpa pernah dibuktikan kesalahannya di Pengadilan

Iklan
1 comment
  1. zakki said:

    betul juga. pemikiran yang bagus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: