Iklan

Tergoda Spanduk Calon “Pelayan”


Kalau, sempat jalan-jalan di wilayah Kab Tangerang yang sebentar lagi Pilkada, pasti banyak poster dan spanduk dari para bakal calon” pelayan” kab Tangerang. Tapi cuma satu poster/spanduk dari bakal calon “pelayan” kab Tangerang yang menggangguku yaitu dari Hj. Airin Rachmi Diany, SH, MH. Cantik sih. Pilih calon “pelayan” yang cantik atau yang ganteng. Kalau aku sih yang cantik aja deh. :).

Lihat beritanya di sini, di sini, di sini, dan di sini. Waktu googling malah dapat “gambarnya” di sini

Apdet

ternyata sekarang malah ada blognya di sini (maaf nggak tahu pasti ini resmi atau bukan. tapi kalau mau lihat foto beliau yang cantik silahkan lihat di bawah ini (fotonya diambil di sini)

Iklan
11 comments
  1. peyek said:

    pilih yang cantik asal kalo dikritik nggak nangis, hehehehe

  2. dita said:

    angga, aku mampir.btw,emang dirimu jurusan apa di unpad?dah lulus ngga?

  3. anggara said:

    @peyek
    bener pak

    @dita
    wah aku sudah lulus dari 2002 🙂

  4. Grahat said:

    Wakakakak… mas.. judulnya kayaknya lebih pas.. tergoda ‘pelayan’… biar lebih provokatif.. wakakakak.

    saya idem deh.. ama bang peyek.. pilih yang cantik.. asal gak kebalik minta dilayanin ajah.. ^^

  5. anggara said:

    @grahat
    patut dipertimbangkan tuh 🙂

  6. kombor said:

    Pak, tahu blog Airin nggak? Bukan yang di multiply itu.

  7. Ping-balik: Kombor.Com

  8. anggara said:

    @kombor
    waduh, nggak tuh kang, saya sendiri nggak yakin apakah yang di mp itu punya airin bukan. saya malah kaget dengan indikasi yang diutarakan kang kombor

  9. zukif said:

    Politic | 26 Oktober 2007 | Hit: 153
    Permadi: PDIP Tak Merasa Kehilangan Marissa
    (OKEZONE) JAKARTA – Anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP) DPR Permadi menyatakan tidak ada masalah dengan kepindahan Marissa Haque ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

    “Itu hak seseorang untuk pindah partai,” ujar Permadi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (8/10/2007).

    Permadi kembali menegaskan, kalau partai berlambang banteng dengan moncong putih ini sama sekali tidak merasa kehilangan dengan pindahnya Marissa. Menurut dia, masih banyak kader lain yang lebih bermutu dan benar-benar kader PDIP. “Kalau dia itu kan vote gather saja, bukan kader dari bawah,” tukasnya.

    Sementara itu, Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (FPKS) Zulkieflimansyah mengaku senang Marissa yang pernah berpasangan dengannya di Pilkada Banten bisa diterima di partai Islam lain. Apalagi Istri Ikang Fauzi itu, kata dia memiliki tekad dan komitmen yang kuat untuk membangun masyarakat.

    “PPP sangat beruntung dapatkan dia, dan dia saya kira untuk mendapatkan satu kursi di DPR tidak sulit,” ujarnya.

    Mengenai mengapa Marissa tidak pindah ke PKS padahal dulu sempat merapat dengan partai tersebut, Zulkieflimansyah mengatakan partainya adalah partai kader. Jadi tokoh yang masuk tidak serta-merta menduduki jabatan strategis di partai.

    “PPP adalah partai yang cocok buat Marissa, dan PPP beruntung mendapatkan dia. PPP akan dapat suara banyak di Banten,” tandasnya. (dian widiyanarko/sindo/kem)

    Senin, 08/10/2007 19:49 WIB

  10. Economy | 04 Januari 2007 | Hit: 433
    Menanti Kebangkitan Sektor Riil
    Tahun 2007 merupakan tahun penuh harapan. Stabilitas ekonomi makro yang tercipta pada 2006 diiringi bangkitnya optimisme masyarakat menjadi bekal yang tak ternilai untuk memacu pertumbuhan ekonomi guna menciptakan lapangan kerja dan mengurangi tingkat pengangguran.

    Kalangan dunia usaha meyakini, titik balik ekonomi mulai terasa ketika memasuki kuartal keempat 2006, saat inflasi tahunan (year on year) mencapai single digit pada Oktober 2006 sebesar 6,29%. Angka ini mencerminkan bahwa dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sudah lenyap. Artinya, daya beli masyarakat akan meningkat seiring penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI rate) yang pada akhir 2006 mencapai 9,75%.

    Negeri ini telah melewati ujian berat pascakenaikan harga BBM yang menyebabkan hancurnya daya beli masyarakat dan kelesuan dunia usaha. Tren konsumsi diperkirakan mulai cair tahun depan dan diharapkan menjadi pemicu utama peningkatan kinerja industri nasional, khususnya yang mengandalkan penjualan produk secara kredit, seperti otomotif, elektronik, dan properti.

    Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Bambang Trisulo memprediksi, penjualan otomotif pada 2007 akan menembus angka 400.000 unit atau meningkat 10-20% dari penjualan 2006. Optimisme serupa juga diungkapkan Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Ridwan Gunawan yang memprediksi penjualan sepeda motor bertumbuh 10% tahun depan.
    Era kebangkitan daya beli ini telah diantisipasi oleh prinsipal asing. Menurut Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Perindustrian Budi Dharmadi, penambahan investasi di sektor otomotif yang ditanamkan prinsipal asing mencapai Rp 13,9 triliun. Perusahaan tersebut antara lain, PT Astra Daihatsu Motor ekspansi US$ 80 juta untuk meningkatkan produksi menjadi 150 ribu unit/tahun, PT Astra Honda Motor investasi US$ 101 juta, PT Yamaha Motor Manufacturing investasi 7 miliar yen.

    Prinsipal motor asal India pun tak mau ketinggalan. PT TVS Motor Company Indonesia dan PT Bajaj Auto Indonesia berinvestasi dengan total nilai mencapai US$ 92,6 juta. “Indonesia merupakan salah satu basis produksi otomotif di Asean, khususnya untuk kendaraan serba guna (MPV) serta produsen ketiga terbesar sepeda motor, setelah Cina dan India. Ini menunjukkan potensi besar dari pasar domestik. Pemerintah menargetkan sektor alat transportasi darat tumbuh 12,4% pada 2007 naik dibandingkan tahun ini sebesar 10,36%,” paparnya.

    Di samping otomotif, kinerja industri elektronika nasional diperkirakan juga membaik tahun depan dengan pertumbuhan sekitar 10%, baik untuk domestik maupun ekspor. Sekitar 74,5% pengeluaran rumah tangga di Indonesia dibelanjakan untuk produk elektronik konsumsi.

    Menurut data Departemen Perindustrian, pertumbuhan industri pada 2006 mencapai 5,9-6,75%, lebih rendah dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) rata-rata 8,56% selama 2005-2009. Pada 2007, Departemen Perindustrian memprediksi industri bakal tumbuh 6,56-7,13%, sementara nota keuangan 2007 memproyeksikan pertumbuhan industri sebesar 7,9%.

    Butuh Investasi

    Ketua Umum kamar Dagang dan Industri (Kadin) MS Hidayat mengatakan, apabila pemerintah mematok pertumbuhan di atas 6% pada 2007, berarti dibutuhkan investasi 23%-30%. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan berkesinambungan bila yang menjadi motor penggeraknya adalah investasi,” kata Hidayat.

    Kinerja investasi pada 2006 memang kurang menggembirakan. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebutkan, realisasi penanaman modal asing (PMA) pada 2006 turun 49,74% dibanding 2005 menjadi US$4,48 miliar, sementara PMDN turun 55,8% menjadi Rp 13,5 triliun. Kondisi ini mencerminkan kelesuan investasi dan dunia usaha yang semakin menjauhkan dari upaya mengurangi pengangguran dan kemiskinan.

    Untuk menciptakan lapangan kerja, sektor riil perlu digerakkan dan investasi perlu ditingkatkan. Jumlah pengangguran tahun ini diprediksi meningkat 1-1,5 juta orang, dengan asumsi angkatan kerja baru bertambah 2-2,5 juta sedangkan yang terserap sekitar satu juta sehingga masih tersisa antara 1-1,5 juta orang.

    Kinclongnya kinerja ekonomi makro yang ditandai dengan inflasi rendah, stabilitas nilai tukar, dan melejitnya indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga 52% pada 2006, ternyata tidak mencerminkan kondisi mikro yang baik.
    Kadin menilai, tahun 2007 adalah tahun kesempatan terakhir bagi pemerintah untuk memperbaiki investasi dan menggerakkan sektor riil karena 2008 pemerintah akan disibukkan dengan Pemilu 2009.

    Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi juga berpendapat sama. “Tahun 2007 adalah tahun krusial bagi Indonesia apakah kita bertahan atau tidak dalam berkompetisi global. Sebab, pada 2008 pemerintah bakal sibuk memikirkan Pemilu 2009,” katanya.
    Masih Banyak PR
    Menurut Sofjan, banyak klausul dalam Paket Percepatan Perbaikan Iklim Investasi dan Paket Kebijakan Infrastruktur yang seharusnya sudah berjalan pada 2006 tetapi macet, seperti revisi UU Pajak dan revisi UU Ketenagakerjaan.

    Masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang perlu diwujudkan segera pada 2007 untuk membangkitkan sektor riil dan investasi. Apindo menginventarisasi ada lima masalah utama, yakni Undang-Undang Pajak, revisi dan perbaikan Undang-Undang Ketenagakerjaan, pembangunan infrastruktur, menurunkan high cost economy dengan memperbaiki birokrasi baik pusat maupun daerah, dan kepastian hukum.
    Selain itu, kebijakan di sektor industri dinilai tidak fokus dan tidak mempunyai tahapan yang jelas sehingga bergerak di bawah performa. Sebagai contoh, rencana pemerintah mengatur industri dalam satu kawasan membuat dunia usaha panik. Rencana tersebut sebenarnya untuk menata industri sehingga pasokan energi dan limbah dapat dikelola dengan baik. “Tetapi itu perlu sosialisasi dan ditekankan untuk industri baru,” kata Sofjan.
    Suplai energi bagi industri menjadi masalah krusial di tahun 2006. Sungguh ironi, Indonesia yang dikenal sebagai pemasok gas dunia, justru industri dalam negerinya kolaps karena tak mendapatkan pasokan bahan bakar gas. Banyak pabrik keramik, mebel, pupuk, baja, yang menjadi korban dari minimnya pasokan gas. Ini merupakan cerminan kurangnya keberpihakan pemerintah terhadap industri dalam negeri.

    Masalah lain yang menghancurkan dunia usaha adalah maraknya produk ilegal dan barang selundupan yang dijual bebas di pasaran dengan harga sangat murah. Hal ini membuat produsen dalam negeri kelimpungan karena kalah bersaing sehingga banyak yang gulung tikar.
    Di bidang investasi, Indonesia dihadapkan pada persaingan yang sangat ketat. Berbagai negara di Asia, seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Singapura berlomba memperbaiki iklim investasi, sementara di Indonesia masih berkutat masalah yang sama, lambannya birokrasi dan ketiadaan kepastian hukum.

    Menurut survei International Finance Corporation (IFC) dan Bank Dunia bertitel “Doing Business 2007”, peringkat Indonesia turun dari 131 menjadi 135 dari 175 negara yang disurvei. Semestinya ini menjadi cambuk bagi pemerintah Indonesia untuk bekerja lebih keras lagi.
    Pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan sejumlah paket untuk manarik investasi masuk ke Indonesia yang dituangkan dalam Inpres No 3/2006.

    Paket tersebut tidak hanya mencakup deregulasi investasi umum, tetapi juga meliputi beberapa aspek lain, seperti kepabeanan dan cukai, perpajakan, ketenagakerjaan, usaha kecil, menengah, dan koperasi, serta harmonisasi berbagai peraturan baik yang bersifat horizontal antarinstansi pusat maupun vertikal antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Namun, lagi-lagi banyak kebijakan dalam paket tersebut yang belum terealisasi.

    Menanti Terobosan

    PR yang masih menggunung itu perlu diselesaikan secepatnya. Pada 2006, pemerintah berhasil menjaga stabilitas moneter, namun sektor riil masih dilanda kelesuan. Tahun 2007 diharapkan akan menjadi tahun terobosan kebijakan untuk membangkitkan sektor riil dan investasi dengan langkah konkret berupa percepatan implementasi paket-paket yang telah dikeluarkan.
    Selain itu, dunia usaha masih membutuhkan berlanjutnya penurunan suku bunga mengingat suku bunga di Indonesia termahal di Asean yang menyebabkan harga produk tidak kompetitif. Menurut MS Hidayat, BI rate pada 2007 perlu diturunkan ke level 7% sehingga suku bunga kredit bisa ditekan pada kisaran 10-11%.

    Harapan akan kebangkitan sektor riil dan investasi pada 2007 sangat besar. Ada tiga faktor yang berpotensi menjadi motor penggerak bangkitnya sektor riil pada 2007, yaitu investasi pemerintah berupa pembangunan infrastruktur, investasi dunia usaha, dan investasi asing.

    Untuk menarik investasi asing, pada 2006 pemerintah sangat giat berpromosi ke luar negeri. Sebagian investor sudah menyatakan komitmennya, tetapi mereka masih menunggu keseriusan pemerintah dalam membenahi iklim investasi.
    Semua menanti. Tahun 2007 diharapkan akan menjadi tahun kebangkitan bagi investasi dan sektor rill yang sangat bermanfaat bagi penciptaan lapangan kerja dan pengurangan angka kemiskinan. Semoga penantian itu tidak seperti menunggu godot. (SR Listyorini)

    sumber : Daily Investor
    03 Januari 2007

  11. anggara said:

    @zukif dan rodo-rodo
    terima kasih atas komentarnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: