Konsisten


Saat Prita Mulyasari dijatuhi hukuman ganti rugi, beberapa teman bertanya kenapa tidak mengambil sikap menentang putusan?

Waktu itu sih saya cuma tersenyum dan menjawab bahwa saya mencoba bersikap konsisten. Saya jelaskan bahwa saya menentang keras delik penghinaan tapi saya tidak menentang gugatan perdata untuk penghinaan.

Untuk itu, saya berusaha bersikap konsisten dengan tidak turut campur dalam kasus gugatan perdatanya. Lagipula untuk menilai apakah ganti rugi itu berlebihan atau tidak, saya tidak punya kemampuan menilainya. Menurut hukum, dalam doktrin penghinaan secara perdata jika dinyatakan terbukti menghina, hakim diharuskan menimbang kedudukan dan kemampuan kedua pihak. Nah, pertanyaannya apakah hakim saat memutus sudah mempertimbangkan dengan baik persyaratan imperatif yang diminta oleh UU?

Tapi saya tegaskan, bahwa saya sangat berempati atas kekalahan
Prita di pengadilan, namun disaat yang sama saya juga harus bersikap konsisten dengan pendirian saya. Posisi saya cukup jelas, saya hanya akan turut campur sepanjang tuntutan pidana atas penghinaan.

Penjelasan itu nampaknya tidak diterima oleh teman2 saya itu dan mencibir bahwa pembelaan saya atas kebebasan berpendapat hanya setengah – setengah. Saya hanya tersenyum dan berkata lirih sembari sedih “apakah ada yang salah dengan bersikap konsisten?”

1 comment
  1. H.Nizam said:

    Kita masing2 berhak untuk berbeda pendapat.
    Yang penting kita saling menghargai pendapat masing2 tsb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: