Archive

Lain-Lain

Siapa yang pernah mendengar lagu ini? Nadanya renyah, ringan, bahkan terdengar seperti lagu yang menyenangkan. Tetapi sesungguhnya, di balik nada itu tersimpan sebuah kesedihan.

Tentang seorang anak yang pulang dari perantauan dengan hati gembira. Ia ingin menemui ibunya. Namun ketika sampai, ia mendapati bahwa sang ibu telah lebih dahulu berpulang.

Yang menarik, kesedihan itu tidak disampaikan dengan ratapan. Ia justru hadir seperti sebuah percakapan sederhana antara seorang anak dan ibunya. Seolah sang ibu masih ada, masih bisa diajak berbicara, masih bisa disapa seperti biasa.

Bahkan pilihan kata “bertamu” terasa begitu dalam. Ia datang ke rumah itu, tetapi kini hanya menemukan papan nama. Rumah yang dahulu terasa begitu akrab, tempat ia pulang sebagai seorang anak, kini membuatnya datang sebagai seorang tamu.

Mungkin karena itu lagu ini terasa berbeda. Kesedihannya tidak meledak-ledak. Ia mengalir ringan, seperti orang sedang berbincang.

Dan mungkin begitulah sebagian kehilangan bekerja.

Tidak selalu datang dalam bentuk tangisan. Kadang ia hadir dalam percakapan kecil yang kita lakukan sendirian—ketika kita masih ingin bercerita kepada seseorang yang sudah tidak mungkin lagi menjawab.

Kesedihan disampaikan dengan cara yang ringan: berbincang.

Barangkali karena rindu yang paling dalam memang tidak selalu membutuhkan air mata. Kadang, ia hanya membutuhkan satu sapaan sederhana kepada seseorang yang sudah tidak ada.

Diam ku hanya sanggup terdiam
Di saat kau menghilang menyimpan seribu kenangan
Terisak-isak suara tangisku
Melawan kenyataan, habis upayaku

Senyuman terakhir itu
Pecahkan saraf sadarku

Per 31 Desember 2016 kemarin, genap saya memimpin ICJR selama 6 tahun atau dua periode berturut turut. Perjalanan panjang yang tidak mudah serta dipenuhi beragam tantangan yang tidak kecil. Selama 3 tahun terakhir, saya memang lebih banyak diam dan mengamati perkembangan organisasi ini. Menjadi pengamat yang lebih banyak diam adalah suatu peran yang semestinya diperankan oleh seorang yang ditugasi menjadi sekedar simbol

ICJR didirikan pada 2007 dan berdiri sebagai Persekutuan Perdata, dan saya bukanlah salah seorang pendirinya. Persinggungan saya dengan organisasi ini bermula dari 2009 saat saya diminta untuk membuat situs bagi organisasi ini. Untuk urusan membuat situs yang tidak rumit, saya masih bisa melakukannya. Saya lalu membuatkan situs sederhana bagi organisasi ini dengan joomla dan lalu bermigrasi dan berganti ke wordpress. Suatu persinggungan yang sama sekali tidak penting dan non ideologis

Read More

Salah satu hal penting saat memulai membangun situs jakartabytrain.com adalah menyalurkan hasrat saya tentang kesenangan berbagi.

Saya bukan traveler dan bukan juga orang yg senang menulis soal wisata apapun. Gaya penulisan sayapun, harus diakui masih kaku di soal wisata. Tapi saya tahu satu hal, bahwa orang butuh informasi mengenai “gimana caranya kesana”. Karena itu saya memulai situs tersebut dengan dengan ciri khusus, selalu menempatkan informasi tentang “gimana caranya kesana”

Beberapa kawan kadang menggoda dengan pernyataan nakal “tuh mulai ada saingan”. Saya sih cuma tersenyum saja, karena saya nggak merasa perlu bersaing ataupun mengganggap yang lain sebagai pesaing. Lah semua ini cuma soal kesenangan saya saja koq, dan saya hanya mau berbagi kesenangan, nggak mikir hal lainnya.

Karena kesenangan berbagi itu, makanya saya senang, kalau ada orang lain juga mau berbagi informasi yang sama di situs jakartabytrain.com. Karena saya juga enggan mempersonifikasi situs itu dengan diri saya atau sebaliknya. Buat saya senang2 itu mestinya bisa dibagikan biar orang lain juga senang