Mari berbisik dalam pagi. Biar lirih, ijinkan aku menyentuh keningmu. Tersenyumlah kapanpun. Karena senyummu menjadi satu – satunya tempat bersandarku saat letih.

Biarkan aku menilikmu dalam pagi yang riuh oleh manusia di stasiun kereta. Karena sejenak aku bisa melupakan kepenatan dalam padatnya kereta pagi.

Barusan nemu kasus yang sebenarnya mudah tapi membingungkan. Ya ini karena MAnya sendiri, entah kenapa miskin pertimbangan untuk menentukan bagaimana caranya dia menemukan kesimpulan itu.

Kasusnya sendiri adalah soal ada anak lelaki (17 tahun lebih dikit) yang pergi bersama seorang perempuan (18 tahun lebih juga). Dalam dakwaannya sih katanya terdakwa (anak lelaki) itu mengajak korban untuk pergi warnet. Awalnya si korban nggak pengen, tapi si terdakwa merayu yang perempuan untuk pergi membeli baju dan akhirnya mereka berdua pergi. Tapi entah kenapa bukannya beli baju si terdakwa bareng korban malah pergi ke tempat lain dan menyewa kamar dan akhirnya terjadilah hubungan seksual. Saat selesai mereka berdua pergi lagi ke tempat lain dan akhirnya tanpa diantar terdakwa si korban pulang ke rumah setelah dua hari bersama terdakwa.

Read More

Kemarin sempet ngobrol sama temen soal salah satu aspek yang meringankan hukuman yang dijatuhkan yaitu “terdakwa bersikap sopan selama persidangan”. Menurutnya bersikap sopan di Pengadilan adalah kewajiban dan agak aneh kalau kemudian itu jadi pertimbangan Hakim tentang hal – hal yang meringankan hukuman.

Kinda agree with that

Jatuh cinta memang menyenangkan, sama menyenangkannya pada waktu menarik selimut saat hujan membekap malam. Cinta memang menghangatkan, sama hangatnya seperti saat matahari mulai muncul mengusir sang hujan

Namun, mengapa rindu begitu membuat resah? Aku ingin kamu tahu, kalau aku selalu menitipkan rindu pada tiap titik hujan yang turun. Saat matahari muncul di pagi hari, aku juga mengirimkan rindu agar ia selalu dapat bersemayam dalam hatimu dan menghangatkan harimu

Terinspirasi dari cerita andin kemarin

Kebetulan waktu ngubek – ngubek perpustakaan saya nemu buku lama yang judulnya “Bayang – Bayang Kekuasaan”. Saya nggak paham genre buku ini mengenai apa, apakah ini novel atau cerita pendek atau justru semacam buku harian dari penulisnya. Tapi saya menganggap buku ini campuran dari cerita pendek dan buku harian dari penulisnya karena ada sub judul yang menarik : “Kasus – Kasus Hukum Diungkap Dalam Bahasa Sastra” .

Read More

Para Napi (dan mungkin juga tahanan) melakukan “revolusi” di dalam LP Tanjung Gusta pada Kamis 11 Juli 2013 sekitar pukul 18.30 WIB. Salah satu penyebab para penghuni LP Tanjung Gusta melakukan “revolusi” adalah ketiadaan listrik dan air di dalam Lembaga Pemasyarakatan. Para napi kemudian melakukan provokasi hingga timbul “revolusi” di lapas yang akhirnya berujung pada pembakaran LP Tanjung Gusta.

Read More

You’re every place that I’ve been
Baby you’re every face that I’ve seen
You’re everywhere and I’m going crazy
Your body’s rocking my dreams
You’re always up in my mind
You’re everywhere that I go

Di minggu lalu, ICW, salah satu organisasi non pemerintah yang bergerak di bidang pemberantasan korupsi, merilis data 36 politisi senayan yang diragukan komitmennya terhadap pemberantasan korupsi. Kriteria penilaian itu dilihat dari sepak terjang politikus tersebut selama berkiprah. Mereka yang terjerat korupsi, atau mereka yang namanya disebut dalam sidang kasus korupsi. Donal Fariz, Peneliti ICW, kepada merdeka.com juga menjelaskan kriteria lainnya adalah termasuk politikus yang pernah mengeluarkan pernyataan di media menyerang KPK atau berniat merevisi UU KPK yang berpotensi melemahkan KPK.

Data yang dirilis oleh ICW ini telah membuat Politisi Senayan marah. Mereka berencana beramai – ramai melaporkan ICW ke Polisi. Salah satu anggota Komisi III DPR, Sarifuddin Suding, bahkan menilai bahwa data yang dirilis oleh ICW telah mengarah ke fitnah dan pembunuhan karakter

Politikus Senayan kebakaran jenggot setelah Indonesia Corruption Watch (ICW) merilis 36 nama calon anggota dewan yang diragukan komitmennya terhadap pemberantasan korupsi. Tak tinggal diam, mereka beramai-ramai ingin akan melaporkan ICW ke polisi. Ia meminta agar rilis yang dikeluarkan oleh ICW harus dibuktikan lewat jalur hukum agar ICW tidak seenaknya melakukan fitnah terhadap seseorang.

Ancaman itu pun di tindak lanjuti oleh dua anggota DPR yaitu Ahmad Yani, dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Syarifudin Sudding dari Partai Hanura melaporkan Donal Fariz dkk ke Badan Reserse Kriminal Polri, pada Senin 1/7/2013. Dalam laporan bernomor Tbl/294/VII/2013/Bareskrim itu, Donal dan kawan-kawan dinilai melanggar pasal pencemaran nama baik dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Namun, tak semua anggota DPR memilih jalur hukum. Max Sopacua, anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat malah tak ambil pusing mengenai data tersebut. Ia menyerahkan penilaian atas data yang dirilis ICW kepada rakyat, meski ia sendiri agak keberatan dengan data tersebut.

Agak heran sebenarnya kalau kedua politisi DPR itu melaporkan data yang dirilis ICW itu ke polisi, karena sebagai pejabat publik mestinya mereka lebih toleran terhadap kritik bahkan kritik yang tidak berdasar sekalipun. Dan lagi pula kalau memang data ICW salah, melaporkan ke polisi jelas bukan tindakan yang baik, mestinya mereka bisa mengklarifikasi data ICW tersebut melalui media, atau kalaupun tetap ngotot untuk menempuh jalur hukum, menggugat ICW melalui jalur perdata jauh lebih terhormat ketimbang menggunakan tangan Negara untuk memproses kasus dugaan penghinaan.

Seminggu kemarin mampir ke Malang, niatnya menjenguk ibu yang lagi sakit. Nggak tahunya malah di rawat di rumah sakit sih. Tapi saya nggak akan cerita soal part sedihnya. Cuma heran aja, karena waktu nyoba naik angkot di Malang, sesungguhnya nggak mudah untuk menemukan cara bagaimana cara naik angkot dari rumah di kawasan Sawojajar sampai ke RSSA.

Terpaksa pakai cara tradisional, nanya, tetap aja nyasar, tepatnya yang ngasih tahu infonya juga nggak akurat. Jadi pepatah malu bertanya sesat di jalan mestinya sudah nggak berlaku lagi ya

Menjadi pejalan kaki di Jakarta adalah sebuah musibah, kalau boleh dibilang begitu. Meski Jakarta adalah kota besar, namun sarana pendukung pejalan kaki seperti trotoar atau tempat penyeberangan jalan belumlah tersedia dengan baik. Selain hanya sekedar ada, respon pengguna jalan lain terhadap pejalan kaki juga belum ramah.

Read More