Archive

Author Archives: anggara

Diam memandangi langit

Berharap yang terbaik

Berdiri disini dengan semua kecemasan

Dan memandang batas yang telah berdiri

Lari, aku ingin berlari kencang

Meninggalkan letih dan perih

Sepi dan kelam membelenggu

Dingin seperti malam yang memeluk erat

Biarkan aku disini memandang dengan semua kecemasan

Memahani dan dipahami

Dan tertinggal dalam hening dan kesunyian

Mungkin telat ya, tapi nggak apa deh. Saya cukup kaget juga waktu baca ada anak perempuan yang gantung diri karena malu saat ditangkap oleh Polisi Syariah di Lapangan Merdeka, Langsa. PE, identitas anak tersebut, menulis surat kepada ayahnya sebelum bunuh diri “Ayah…Maafin PE ya yah, PE udah malu-maluin ayah sama semua orang. Tapi PE berani bersumpah kalau PE gak pernah jual diri sama orang. Malam itu PE cuma mau nonton kibot di Langsa, terus PE duduk di lapangan begadang sama kawan-kawan PE i.”

Read More

Jika cinta itu sedingin es, kenapa aku merasakan hangat
Jika cinta itu tak mudah digenggam, lalu kenapa aku merasa terikat
Jika cinta itu kamu, dan itu menjelaskan kenapa aku jatuh begitu dalam…untuk kamu

Kemarin kebetulan nonton Oprah Winfrey Show, jarang sih sebenernya nonton Oprah itu, tapi temanya sebenarnya menarik bukan soal pelariannya buat saya sih, tapi soal plea bargain. Jadi Oprah itu lagi mewawancarai seseorang yang bernama Susan LeFevre atau Marie Walsh yang jadi pelarian selama 32 tahun.  Pada 1975, Susan yang waktu itu masih berumur 19 tahun ditahan karena tuduhan menjual heroin sebesar 2,5 gram kepada petugas yang menyamar.  Ia sendiri mengaku tidak menjual heroin namun ia sering menjadi semacam “perantara” yang membelikan narkotika untuk teman-temannya. Namun saat itu ia mengaku tidak sedang menjual narkotika kepada petugas yang menyamar. Namun ia memilih mengaku bersalah  atas saran dari keluarganya, pengacaranya, dan jaksa penuntut. Ia dijanjikan untuk mendapat hukuman percobaan jika mengaku bersalah.

Read More

Kadang, mungkin lebih baik diam tanpa ada harus banyak tanya dan biarkan jawaban itu hadir secara alami

Kadang, mungkin lebih baik diam tanpa harus bertanya kenapa yang seharusnya ada dan terbuat mungkin terlupakan

Kadang, mungkin lebih baik diam untuk belajar mengamati tanpa harus banyak pikiran yang membelenggu. Rela dan ikhlas adalah kata kuncinya

Kadang, mungkin lebih baik diam dan terdiam, agar tak banyak pertanyaan yg harus muncul dan yang mungkin terasa mengganggu

Kadang, mungkin lebih baik diam dan menyimpannya sebagai memori tentang satu prasasti yang indah

Kadang, mungkin lebih baik diam dan tetap tersenyum meski perih menghadang. Dan biarkan itu tersimpan rapat dalam laci hati

Dalam banyak hal, internet dipuja bagaikan obat penyembuh dari segala situasi, internet bahkan ditengarai menjadi faktor penentu meletusnya suatu revolusi sosial atau adanya perubahan sosial yang diciptakan dari gerakan yang tidak beraturan. Begitu kuatnya mitos internet, sampai – sampai banyak pemerintahan berupaya mengontrol internet agar tak ada yang memanfaatkan internet sebagai medium untuk menyalakan revolusi

Read More